SOCIAL MEDIA

Friday, May 17, 2019

11 HARI TANPA MAMA & BAPAK


Hampir 5 tahun saya jadi ibu belum pernah sekalipun pisah dengan Andin selama 24 jam. Kalau pisah dengan Bapaknya mah sering ya. Buahahaha…🤣
Mau protes kepalang bacut. Dari dulu kan udah tahu kerjanya ‘antara ada dan tiada’ lalu pas milihnya SADAR. Jadi sekarang bagian dari konsekuensi pilihan, NGGAK PANTES PROTES. Sungkem Bapak Hen, jangan lupa jatah baju lebaran. *Loh 😁✌
Kalau ada yang baca postingan ME TIME tahun 2018, sampai saat ini, itulah waktu terlama saya dan Andin berpisah. Maka, kebayangkan dag dig dug hati menjalani operasi yang estimasi waktunya jelas lebih dari 24 jam.
Yah, daripada rungsing sendiri, mending saya usaha yang kendalinya di diri. Memakai 5 pilar Enlightening Parenting (EP) dan salah satu metode instalasinya, yaitu BRIEFING & ROLEPLAYING.

1. Diskusi dan Mengelola Emosi.
Sejak tahu ada kemungkinan operasi, saya mulai diskusi dengan Bapak Hen mencari alternative apa aja buat Andin. Lalu, memastikan alternative ini bisa di jalani.
Contoh: ada pilihan menitipkan Andin ke Onti-Om alias adek saya di Purwokerto, so memastikan kesediaan mereka berdua. Kan gimana gitu ya kalau ini mulut udah kasih alternative dan dipilih Andin, eeeehh ternyata nggak bisa dijalani 😂.
Di tahap ini, masih sering tu hati saya mencelas-mencelos. Ya deg-degan mau operasi, ya deg-degan ninggal anak, ya deg-degan hasil, dll.
Taaapiii, daripada nularin khawatirnya saya ke Andin, mending pakai pilar pertama EP, MENGELOLA EMOSI.
Baper-baper? Ya self distance alias disosiasi, tekhnik yang saya pakai itu yang terbang.
Melow-melow? Ya reframing.
Butuh haha hihi? Ya pakai anchor.
Penak men uripmu (red: enak banget hidupmu), Mbak?!🤣🤣🤣
Cobalah yang ngomong melihat saya saat latihan dulu itu.
Pakai grotal gratul, bahkan sekarang masih latihan disosiasi plus senyum 20 detik selama 21 hari tanpa alasan. Itu saya dapet resep dari mbak Okina Fitriani saat dialog alumni EP.Saya buat  tabel, tempel, kalau ngelakuin centang. Kalau hari itu kelewat, berarti ulangi dari awal, pokoknya genep 21 hari tanpa bolong. Biar sakti seperti mbak Oki 😝🤣
Detail tentang apa itu reframing, apa itu anchor bisa di klik.



2. Sounding, Fokus Pada Tujuan, dan Ketajaman Indra.
Ini saya mulai berminggu-minggu sebelum hari H dengan bahasa sesederhana mungkin.


“Ada bakteri di sini (payudara) Mama. Bakteri ini bikin Mama sakit. Nah, penyakitnya ini mau diambil sama dokter biar Mama sehat, namanya operasi. Sebelum dan sesudah operasi Mama boboknya di rumah sakit. Blablabla”.




Lalu mulailah hari-hari saya diisi dengan banyaknya reaksi dan pertanyaan Andin yang silih berganti.
Apa itu operasi?
Kenapa harus operasi bukan minum obat aja?
Bedanya apa dengan Andin pas bobok (opname) di rumah sakit?
Kenapa Andin nggak boleh nemenin Mama?
Apa ini apa itu sampai protes kenapa Andin ini kenapa itu.
Bahkan Andin jadi punya cita-cita menciptakan suntikan dan obat buat semua Mama-Mama yang sakit biar nggak usah tidur (opname) di rumah sakit. Aamiin, nak.
Ditahap ini Andin juga diberikan pilihan berujung sama (tidak bersama saya selama di RS).
Andin boleh pilih mau tinggal dengan Uti-kakung di Jogja atau dengan Onti Om Adit-Oma Opa di Purwokerto. Saya jembrengin (red: paparkan) plus minusnya masing-masing pilihan. Jadi, Andin punya gambaran apabila bersama uti-kakungnya gini lo enaknya, nggak enaknya ini, begitu juga buat pilihan bersama Oma-Opa Onti-Om Adit.
Ooo, jangan ditanya proses kedua ini semulus tulisannya ya. Andin sempat menolak, bahkan nangis karena saya salah menjawab. Jadi harus mengelola emosi, membriefing diri sendiri, menyiapkan berbagai alternative jawaban, plus sehat mental, jiwa dan raga itu PENTING!
Menyambung ke pilar pertama EP, MENGELOLA EMOSI.
Jadi, waktu itu ya perlahan, alon-alon wajib kelakon (red: pelan-pelan wajib terjadi) 😂*halah. Sambil tiduran, sambil mainan, selesai baca buku, pokoknya pas keliatan (ketajaman indra ala #enlighteningparenting) mood oke, seeding lagi. Anaknya badmood ya tunda. Udah begitu saja terus hari-hari saya. Hahaha…
Meliak-liuk, naik-turun sampai tahap Andin mau menerima, bahwa yak operasi memang terbaik untuk Mama dan anak dibawah 12 tahun dilarang masuk area rumah sakit.

3. Briefing & Roleplaying dan Bangun Kedekatan
Andin memilih tinggal di Purwokerto selama saya opname.

Jadi, wajib membangun kedekatan alias rapport building lebih intens pada kesayangan saya yang akan dititipin Andin. Sering-sering telepon, komunikasi dengan santun, pakai strategi komunikasi dan focus pada hal baik yang sudah mereka lakukan buat saya, suami dan Andin. Rapport building ke adek dan adek ipar saya Alhamdulillah lebih mudah lagi. Sampai sekarang, sahabat terbaik saya ya adek saya. Jadi, kami bak sejoli yang terpisah karena masing-masing sudah punya imam, tapi kelekatan kami berdua insyaalloh selalu terjaga. Cooo cwiiit. Haaai dek! 🤣😝


Jadi, saya kirim beberapa hal via email ke Onti (adek saya). Minta tolong Onti ngeprint lalu tempel di tempat-tempat yang mudah dijangkau dan sering dilihat.
– Makanan apa yang Andin doyan, makanan apa yang perlu siasat lebih
– Detail cara masak sampai cara penyajian
– Info memuji dan menegur efektif
– Cara membangunkan tidur Andin
– Cara membuat kesepakatan diawal
– Aturan-aturan yang kami sepakati di Jogja untuk di Purwokerto
– Jadwal kegiatan Andin saat adek dan adek ipar saya kerja.
Dan yang wajib diingat adalah saya ini sifatnya NITIP anak tur NGREPOTI.
So jangan sampai mereka terbebani dengan cara pengasuhan yang biasa saya lakukan. Wis NITIP njuk kokean syarat, lak njeleih 🤣 (red: sudah nitip, malah kebanyakan syarat, nyebelin).
Jadi, tetek bengek (red: berbagai hal) print-printan itu BUKAN semata-mata agar sesuai kaidah pengasuhan saya, tapi niatnya adalah ingin memudahkan keluarga di Purwokerto terutama Oma-Opa menghandle Andin saat Onti-Om kerja. Usia beliau berdua sudah rentan lelah, paling nggak daftar diatas bisa jadi “P3K” saat kebingungan soal Andin.
Dengan ijinNya adek saya yang belum ikut training EP, tapi sudah baca buku The Secret of Enlightening Parenting mencoba menerapkan beberapa tekhnik, terutama briefing & roleplaying. Adek saya merasa bahwa EP mudah diaplikasikan. Barakallah mbak Oki 💗.
Anak itu kan dasarnya taat, maka rapport building, kesepakatan di awal, briefing & roleplaying dan konsisten dalam menegakkan aturan bisa menghindarkan diri dari emosi-emosi yang nggak perlu 😆.

4. Briefing & roleplaying Andin.
Ini sejalan dengan yang saya lakuin ke keluarga Purwokerto.
Saya buat if scenario :
Kalau Onti-Om Adit kerja semua, Andin gimana.
Kalau Oma saraf kejepitnya kumat, Andin gimana.
Kalau Opa lututnya sakit lagi dan nggak bisa jalan, Andin gimana.
Kalau Oma masaknya nggak enak, Andin gimana.
Aturan dirumah Oma-Opa gimana, dst.
Mengingatkan tentang anchor berani yang sudah dia punya saat persiapan masuk sekolah.
Mengajari Andin healing diri sendiri saat kesal, bete atau marah dengan Oma-Opa atau Onti-Om. Lalu, mendiskusikan ke Andin saat kangen dengan Mama itu harus gimana. Ajaibnya, keluar jawaban dari dirinya:
Mama (M)         : Kalau Andin kangen sama Mama gimana, nak?
Andin (A)          : Ya bilang sama Oma-Opa atau Onti-Om Adit, ‘Oma Opa Onti Om Adit, Andin kangen Mama’. (Ini saya ngajarin juga ke Oma-Opa gimana biar nggak baper kalau cucunya kangen Mamanya. Jangan sampai jadi sedih berjama’ah. Hahaha..😅).
M   : Kalau masih kangen gimana?
A    : Andin videocall.
M    : Kalau setelah videocall masih kangen gimana?
A     : Ya Andin ambil foto Mama (Andin menyiapkan 2 foto saya buat dibawa ke Purwokerto).
M     : Kalau masih kangen lagi gimana?
A      : Andin berdoa sama Alloh biar kangennya hilang terus elus-elus disini (dada) ada Mama.
M     : Sip. Kita coba yuk… (roleplaying).
Elus-elus di dada itu sebetulnya anchor yang terinstall saat Andin memeluk saya erat-erat waktu kami diskusi soal kemungkinan saya operasi.Berikutnya roleplaying sesering mungkin.Dan lagi-lagi, realita tak semulus tulisannya 🤣.
Saat roleplay ada banyak hal yang saya diskusikan dengan Andin. Andin juga keberatan di beberapa hal, akhirnya saling koreksi dan jadilah kesepakatan dua arah.
Jadi inget saat dialog alumni EP mbak Okina mengingatkan, bahwa briefing & roleplaying bukan sekedar TELL-TELL, “kamu nanti gini ya, kamu jangan gitu ya”. Kalau begitu itu baru TELL. Jadi, kesepakatan itu harus dua arah, WIN-WIN.Saya juga melibatkan Andin dalam packing baju, mainan, bahkan topi jalan-jalan.Lalu, malamnya sebelum berangkat ke Purwokerto saya ceritakan singkat dari awal sampai akhir proses yang sudah kami lakukan.

5. Anti Julid dengan Fleksibel dalam Tindakan😝
Ada beberapa hal yang saya, suami, adek dan adek ipar saya hadapi.Orangtua kami paling nggak nyaman kalau anak-anaknya “nuding-nuding alias sok keminter” tentang hal yang sudah mereka lakukan duluan dan hasilnya sudah terlihat, yaitu pengasuhan.Ya kan, anaknya sekarang udah punya anak, dengan cara pengasuhan mereka dulu itu ya anaknya tetep hidup, bahkan mampu ini itu. So, siapa juga yang mau disalah-salahin 😝😁.
Maka, tugas saya “menjaga” agar beliau berdua tidak merasa diajari apalagi terbebani, termasuk menjaga agar rumah Purwokerto minim konflik. Tentu yang saya ajari itu adek dan adek ipar saya. Sudah bukan ranahnya orangtua kami dipaksa mengerti, tapi anak-anaknyalah yang harus fleksibel dalam menyampaikan apapun, agar tujuan tercapai tanpa ada ribut-ribut.
Lalu saat mau memberitahu orangtua soal beberapa rules yang saya terapkan ke Andin, maka saya briefing & roleplaying ulang Andin di depan Oma-Opa.Ini cara saya yang ampuh. Selain memantapkan Andin, sekalian seeding tanpa disadari beliau berdua. Hahahaa… Mereka jadi tahu tanpa merasa diberi tau.Tujuan tercapai tanpa ribut-ribut 🤣
Ada kritik nggak?Jelas ada🤣. Dengarkan dan terima apa yang beliau sampaikan. Alasannya beliau berdua nggak tega ini itu sama Andin. Kan simbah pengennya cucu bahagia, apapun yang diminta bakal dikasih selama mereka bisa ngelakuin.Tapi saya paham, ada if scenario, Andin cukup kuat untuk menerapkan jadi nggak ada kekhawatiran 🤗.

6. Doa
Saya teringat kalimat mbak Okina Fitriani di blog beliau, bahwa hasil bukan milik kita. Hasil itu milik Alloh, tugas manusia menggenapkan ikhtiar semaksimal mungkin, maka doa adalah bagian dari ikhtiar yang harus berjalan seiring.
Do’a bukan cuma senjata pamungkas tetapi do’a adalah basic dari keseluruhan upaya.
Alhamdulillah yang belum pernah 24 jam terlepas dari Mamanya, ternyata mampu 11 hari di Purwokerto dengan kesepakatan dan aturan yang konon kata Ontinya sangat mudah diingatkan. Semua ini tidak terlepas dari ijinNya dan support system yang luar biasa. Suami yang memberikan restu, Orangtua yang masih berkenan berupaya, bahkan adek dan adek ipar saya yang mau meluangkan waktu menjadi sahabat terbaik bagi Andin ❤.
Sumber: Nuri Aprilia
IG @nuriiaprilia


No comments :

Post a Comment