SOCIAL MEDIA

Friday, May 31, 2019

Merajut Cinta Orangtua & Mertua

Tulisan ini adalah sedikit dari sekian banyak insight kelas Enlightening Parenting Sharing Special "Merajut Cinta Orangtua & Mertua" yang dilaksanakan Kamis, 30 Mei 2019 di Lafayette Boutique Hotel Yogyakarta. Kelas kedua yang saya ikuti dengan tema yang sama. Pertama kali mengikuti itu saat bulan Ramadhan tahun lalu dan baru Ramadhan tahun ini terlaksana lagi.



Alhamdulillah. Saya bersyukur luar biasa kemarin bisa ada di dalam ruangan mengikuti Enlightening Parenting Sharing Kelas Spesial Merajut Cinta Orangtua & Mertua (MOM) bersama mbak Dini Swastiana, mbak Novi Herdalena, juga teman-teman team Enlightening Parenting sharing Jogja.


Kelas MOM kali ini betul-betul luar biasa.
Materinya runtut, slide juga videonya masyaalloh bagus betul. Penyampaian alurnya ngena dan sangat santun, plus ditambah kelas ini ngajarin tekhnik. Memang yang dibuat dan diniatkan sepenuh hati pasti akan terasa “beda”. Barokallah tim MOM EP.


Saya ini ibu yang baru memiliki satu anak.
Siapa sini yang mau ngebantah kasih sayang saya yang tiada tara sama Andin? ๐Ÿคจ
Minum susu dipipetin sampai 100x pipet 1ml-an, asal perut Andin terisi aja saya jabanin.
Deeeemiii…Deeeemiii…



Dan kelas ini mengingatkan saya, bahwa mertua itu juga orangtua. Mama Papa saya, juga Mama Papa suami adalah orangtua. Rasa sayang mereka saat mengandung, merawat, membesarkan, memberikan yang terbaik, bahkan mendoakan pagi-siang-malam, juga melakukan apapun untuk kami, anak-anaknya, tiada terbantah. Bahkan hingga saya dan suami tak lagi jadi kewajiban mereka.



Rasa sayang saya ke orangtua jangan ditanya, apalagi Mama. Sekalipun dulu saya ada konflik dengan Papa, tapi kalau ditanya siapa lelaki paling baik dalam hidup saya? ya Papa. Orang yang selalu tergopoh-gopoh terbangun tengah malam, lari-lari membawa air putih untuk saya kecil yang pura-pura mimpi buruk, padahal sebetulnya cuma susah tidur.

Mereka mengalahkan banyak kepentingan mereka untuk saya kecil. Masyaalloh Pa, semoga kami jadi orangtua dimampukan sesabar Papa. Dan pikiran ini baru terbuka ya saat MOM pertama, tahun lalu.

Lalu hubungan saya sama MERTUA gimana?



Kemarin di kelas saya ceritakan apa sebab dulu saya begitu sakit hati dengan mertua. Semoga setiap menceritakannya dan perubahan yang saya rasakan menjadi kebaikan, kelapangan dan keberkahan yang mengalir pada kedua mertua saya. Di dalam kelas MOM, rasa di dada itu penuh, pengen peruk terus cium-cium mertua. Kelas ini membuat cinta saya bertambah beribu-ribu kali lipat.


Subhanalloh kalau ingat dulu itu, betapa teganya ya saya. Sesepuh itu masih merasakan sakit hati bahkan mungkin menangis karena tingkah lalu dan tutur kata saya, menantunya yang baru satu-satunya. Padahal begitu banyak kebaikan yang beliau lakukan untuk anaknya, yang sekarang jadi suami saya dan saya yang menikmati hasil jerih payahnya. Astaghfirulloh. Semoga Alloh swt berkenan mengampuni saya ini.



Pulang kelas itu saya senyum bahagia melihat mertua ngekek-ngekek main sama Andin. Cerita ke saya soal tingkah laku Andin selama saya ikut MOM. Dan sebelum berangkat MOM, saya minta doa restu juga dicium ubun-ubunnya oleh mereka sambil sungkem cium tangan. Alhamdulillah mereka masih lengkap dan Alhamdulillah jarak rumah kami dekat. Padahal dulu jarak rumah ini jadi siksaan karena konflik tiada terselesaikan, akhirnya sekarang jadi menyenangkan, karena dimampukanNya.

Nggak ada orang yang imun dengan kebaikan. 
Persuasi itu nggak boleh ngapusi.   
Jadi, percayalah saat mau persuasi ke mertua atau orangtua, tapi kok hati masih ngganjel, ya yang ada mangkel. Narik senyum, tapi ketok le manyun.



“Aku nggak mau mbak jadi ibu yang kaya ibuku. Ibuku itu blablabla…”

Eh lah jebul saat jadi ibu justru ngelakuin yang dilakuin ibunya dulu. Ternyata, jadi potensi mengulang rantai kesalahan yang sama.

“Aku anyel mbak sama mertua. Mertua itu blablabla…”

Lalu posting meme atau caption yang mencurahkan isi hati di sosmed, nyinyir sana-sini, cari pembenaran. Ndilalah lingkungannya mendukung. Badalah. Nggak selesai masalah, yang ada kepikiran terus, gregetan, lalu edan sendiri.


MAU SAMPAI KAPAN?

Siapa pemilik umur?
Siapa penggenggam hati?

Siapa pemilik jiwa?

Tentramkah memelihara rasa nggak nyaman?

Memelihara rasa nggak nyaman justru membuat kita berperilaku negatif dengan oranglain.
Yuk berikhtiar, selesaikan yang ngganjel-ngganjel. Mana ada maunya santai kaya di pantai terus berharap oranglain berubah? Lah, kata mbak Dini, itu jalan tol menuju kedepresian!


Hasil nggak akan mengkhianati ikhtiar. Tapi jangan lupa, hasil itu nggak cuma yang kelihatan di dunia.
Justru yang dicari akherat kan?

Pada saat memaafkan, itu nggak ada hubungan dengan orang yang menyakiti hati. 
Justru memaafkan itu menyembuhkan diri sendiri.

Mari memaafkan oranglain, bukan karena mereka layak dimaafkan, tapi karena kita kayak merasakan damai.


Tim Sharing Enlightening Parenting
Barokallah mbak Dini Swastiana juga tim MOM, terutama untuk guru kesayangan saya, mbak Okina Fitriani, founder Enlightening Parenting. Semoga segala kebaikan dan kemudahan tercurah bagi sahabat-sahabat saya ini juga mereka yang berkesempatan hadir di kelas kemarin karenaNya.


Tim Sharing Enlightening Parenting
Forgiveness Therapy Massal
Tulisan ini pernah diposting di instagram @nuriiaprilia :
Bagian 1 klik di sini.
Bagian 2 klik di sini.
Bagian 3 klik di sini.

Tuesday, May 28, 2019

Jus Buah Naga Kaya Serat




Jus ini jadi salah satu minuman andalan saat berbuka puasa.

Resep ini saya dapat dari salah satu sahabat saya, mbak Annabella. Saat ke rumah beliau untuk minta air hujan, ehh malah kita dibikinin jus enak ini sama mbak Anna. Yeaay!

Resep :

Buah Naga 1 gluntung
Air putih 1 gelas mug
Psyllium Husk 1 sendok makan
Garam himalayan seujung sendok teh
Air perasan jeruk nipis

Blender jadi satu.

Hasilnya :
Jaadiilaaah 2 gelas mug jus buah naga tinggi serat siap santap.


Membangun Kedekatan (Rapport) ala Enlightening Parenting Dengan "Aku Hanya Untukmu" di Bulan Ramadhan


 

Adakah yang masih bingung berkegiatan “Aku Hanya Untukmu” ala Enlightening Parenting?
Bulan ramadhan ini saya nemu kegiatan AKU HANYA UNTUKMU yang murah meriah tur sehat wal’afiat.




Awal belajar Enlightening Parenting saya termasuk golongan Mama yang banyak bingungnya, banyak takutnya.
Belom dicoba, udah takut bingung nantinya.
Belom dipraktekkan, udah takut gagal hasilnya. Termasuk memraktekkan AKU HANYA UNTUKMU.
Alhasil judeg duluan. Buahaha…

Adakah yang kaya saya? ๐Ÿ‘€

Di buku EP ada pembahasan 5 pilar keberhasilan membuat perubahan dalam pengasuhan, salah satunya yaitu membangun kedekatan (rapport). Kedekatan itu ya nggak cuma secara fisik, tapi juga kedekatan yang diterima bawah sadar anak. Jaadi, kalau anaknya ada yang masih nolak, ya tandanya kedekatan juga kepercayaan si anak ke yang ditolak itu belum terbangun dengan baik.

Mbak Okina Fitriani juga menuliskan di buku The Secret of Enlightening Parenting beberapa penelitian yang mengamini bahwa kondisi emosi seseorang atau mood akan mempengaruhi orang lain. Detailnya bisa baca di buku The Secret of Enlightening Parenting ya.

Nah, kalau baca bukunya (The Secret of Enlightening Parenting), maka akan makin ngeh lagi, oalah jebul ada banyak cara ya untuk membangun kedekatan dengan anak, salah satunya AKU HANYA UNTUKMU.



Ada yang belum punya bukunya? ๐Ÿ‘€

AKU HANYA UNTUKMU ini maksudnya, saya menyediakan waktu 15-30 menit setiap hari khusus untuk Andin tanpa gangguan apapun dan siapapun. Termasuk tangtingtung tangtingtung bunyi HP.

Di bulan selain ramadhan ini, saya melakukan AKU HANYA UNTUKMU itu biasanya malam hari setelah sholat isya’ sampai sebelum tidur. Aktivitasnya gonta-ganti antara pijet Andin, uwel-uwel di tempat tidur, makan snack malam, mendongeng, atau pillowtalk dalam remang-remang syahdunya malam. *Halah



Kalau di bulan selain ramadhan itu biasanya malam hari.
Lalu pas bulan ramadhan gimana?

Di bulan Ramadhan itu kalau sore saya sibuk siapin buka puasa, ngaji, plus malam juga tarawih, maka waktu ideal AKU HANYA UNTUKMU justru setelah subuh sampai sebelum mandi pagi. Walaupun ya sakjane ada kepengenan tidur lagi. Buahahaha….๐Ÿคฃ

Nah, yang saya lakukan itu JALAN-JALAN muter kampung berdua sama Andin. Syahdu lo...
Setelah subuh, tunggu matahari muncul dikit barulah kita muter kampung. Udaranya seger, enak. Olahraganya dapet, rapport buildingnya dapet. Efisien, sekali dayung 2 pulau terlampaui ๐Ÿคฃ

Saat jalan-jalan Andin nyerooocoooos terus. Kadang nyanyi lagu yang yah itu lagi itu lagi. Kalau Andin nyanyi biasanya saya dilarang ikutan nyanyi. Katanya suara Mama “salah” alias ngganggu khusyuknya Andin menghayati lagu. Hahaha…๐Ÿ˜…
Jadilah saya cuma senyam-senyum sambil ngikutin gerakan kakinya, loncat-loncat kecil gitu deh nyesuain irama plus diliatin tetangga ๐Ÿ˜†



Kadang ya jalan-jalan kami diisi cerita Andin, mulai dari kegiatan sekolah, interaksi sama temannya, kalimat-kalimat yang diucapkan guru-guru pengampu kelasnya, bahkan ngresula soal Bapaknya. Hahaha… *Pak Bapak Kena dah ๐Ÿ˜

Kalau Andin cerita maka kesempatan saya buat ngorek-orek banyak hal. Gara-gara kegiatan ini juga saya sadar lupa menjadi “detektif kebaikan” untuk sekolah Andin, baik guru maupun teman-temannya. Amnesia jadi “detektif kebaikan” membuat saya mengeneralisasi beberapa minus yang tak rasakan di sekolah Andin. Nila setitik rusak susu sebelanga.



Menjadi “detektif kebaikan” seperti yang Andin ceritakan di pagi hari membuat saya ngeh bahwa iya ya, sekolahnya ini juga banyak jasanya, banyak kebaikan yang Andin rasakan dan memudahkan saya juga sebagai ibu. Jadi, saya mulai mencatat, menjadi “detektif kebaikan” ala EP untuk berbagai hal positif yang dilakukan Andin maaupun lingkungan sekolah. Efeknya justru saya dimampukanNya punya beberapa solusi dalam menghadapi “tantangan” interaksi Andin dengan lingkungan sekolahnya.

Berkah Ramadhan.
Berkah jalan pagi berdua. Makasih nak!


Coba saya tidur lagi, berkah apa ya nanti?! ๐Ÿ˜

Tulisan ini pernah diposting di instagram, bagian 1 dan bagian 2.

Friday, May 24, 2019

Siapkan Anak Menunggu Mama Seminar Online Dengan Briefing & Roleplaying






Founder Enlightening Parenting, mbak Okina Fitriani, mengisi seminar online via cozora.
Ada yang ikut?

Ada yang ikut? ๐Ÿ™‹

Buat saya seminar online ada plus minusnya.

Plusnya itu di rumah bisa nyambi jagain Andin, minusnya justru karena di rumah biasanya malah jadi nggak konsen, karena Andin ngrecokin melulu. ๐Ÿ˜‚

Harusnya kan seneng ya emaknya nggak perlu keluar rumah, tapi eh tapi Andin malah 'caper'.

Ujung-ujungnya ya rewel. ๐Ÿค”

Baru ngeh, kalau emaknya harus keluar rumah, kok ya Andin anteng, mandiri, nyenengin ya?!

Ini konon kata Bapak Hen lo ini. Hahaha...
Tapi, kalau emaknya seminar yang diem di rumah kok ya sebaliknya. ๐Ÿ˜‚

Kenapa eh kenapa ya?

Nah...teernyataa...

Kalau mau ninggal Andin buat kelar rumah, biasanya saya siapkan semuanya jauh-jauh hari. Ada sounding, briefing, nanti makan gimana, mandi gimana, baju dimana, mainan apa, snack nya apa, dll.
Yang dibriefing bukan cuma Andin, tapi juga Bapaknya yang jagain. Makaaasih Bapak. ๐Ÿ˜›

Hidup jadi terarah.


Sebaliknya, kalau seminar online di rumah itu cenderung 'ngegampangin'. Saya ngerasa halah kan dirumah. Seminarnya juga 2-3 jam doang kan ya. Ngapain ribet-ribet briefing...alhasil ambyar. ๐Ÿ˜

Terus gimana dong?

BRIEFING

Di Enlightening Parenting selalu diajarkan bahwa, anak itu ya bukan orang dewasa yang dikecilkan.

Jadi, pengalaman yang sama sekali belum ada jejak peta mentalnya perlu dilatih dan dikenalkan. Kasih gambaran sedetail mungkin.


ROLE PLAYING

Lakukan main peran sama anak untuk memastikan anak siap nggak dengan kondisi tadi. Lalu cek pemahamannya. Apa anak sudah mengerti dan tau bagaimana nanti bersikap.

Briefing saya waktu itu kurang lebihnya gini :


Mama (M) : Andin, besok waktu Andin pakai baju biru (Andin belum tau konsep hari), habis kita ngaji (Andin belum tau konsep jam dan ngaji itu saya lakuin habis sholat maghrib). 
Mama mau belajar di sini ya (nunjuk meja depan yang ada laptopnya).
Nanti kalau alarmnya bunyi tengtongteng tengtongteng (sambil nyanyi), Mama sudah selesai belajarnya, terus ngelonin Andin, kita bobok.
Andin (A) : (ngangguk)


M : Nah, Mama belajar itu harus liat laptop, nggak boleh diganggu ya.

Pas Mama didepan laptop, Andin mau nemenin Mama sambil mainan di sini (nunjuk meja depan) atau di kamar?
A : Dikamar aja, sumuk.


M : Nah, di kamar mau mainan apa? Mama bantu siapin.
A : Kotaknya bawa ke kamar aja, biar Andin pilih sendiri.


M : Oke, nanti mama bawain kotaknya.
Andiiiin, kalau Andin laper, Mama siapin pisang goreng disini ya (nunjuk meja dikamar). Kalau Andin mau pipis atau e*k nanti minta tolong Bapak.

A : Iyaaa..kalo Andin ngantuk?
M : Nah, kalau Andin ngantuk, boleh tidur dulu sama Bapak atau tunggu sampai alarm bunyi nanti dikelonin Mama.
Oke ya Andin?
A : oke


M : Sipp...kita ulang ya.

Jadi, besok waktu Andin PAKAI BAJU BIRU, SELESAI NGAJI, Mama mau belajar didepan.
Andin nggak boleh ganggu Mama belajar sampai alarm bunyi.
Andin TUNGGU Mama sambil mainan di kamar sampai alarm bunyi.
(intonasi suara saya tekan di kata2 yang dihuruf besar)
Kalau Andin laper, gimana, Ka?
A : Ada pisang disini. (nunjuk meja).


M : Kalau mau pipis?
A : Minta tolong Bapak.


M : Kalau bosen?
A : Ambil mainan di kotak.


M : Kalau ngantuk?
A : Tunggu alarm bunyi.


M : Oke, kita coba yuk, Ka.

Ceritanya Andin sudah pakai baju warna biru ni ya, Mama set alarmnya ya.

(Terus lakuin role play kaya gambaran diatas).

Step diulang-ulang sbelum hari H sampai akhirnya pas hari H, sbelum waktu seminar mulai, Andin ngeralat kesepakatan.
Andin minta Mamanya supaya belajarnya di kamar aja, biar dia bisa liat Mamanya.
Dia juga memastikan dengan bilang nggak akan ganggu walaupun kami satu ruangan.

Dan ternyata memang bener, 2 jam seminar aman, damai, tentram.


Semua berjalan sesuai biefing, Andin pipis sama Bapaknya. Ambil dan makan pisang goreng sendiri lalu mainan berdua sama Bapak. Waktu ngantuk, dia bilang “alarm-nya belum bunyi, Andin mau tunggu Mama” hehhe..❤


Selesainya saya bilang terimakasih karena sikapnya ๐Ÿค—

Konsekuensi juga bisa disepakati bersama dalam briefing, misal kalau ternyata tetep rewel gimana, dll.


Buat Andin tadi tanpa konsekuensi, kenapa?

Misalnya ternyata Andin rewel, ya nggak papa, saya akan mendahulukan Andin dan menutup laptop, karna materi seminar online masih bisa dilihat rekamannya 2x24jam.
Tapi, Alhamdulillah ternyata lancar ❤

Awalnya, saya menganggap briefing itu buang-buang waktu.

Rasanya males banget kan ya buat hal (yang menurut saya) sepele harus nyiapin sampai segitunya, tapi justru dengan 'buang waktu' tadi jadi bisa membuat kegiatan lancar, menyenangkan, bebas dari NGANCAM-MENGANCAM dan EMOSI yang nggak perlu ๐Ÿค—

Selain itu, kata mbak Okina Fitriani,


Orangtua perlu paham rentang perhatian dan pengendalian diri anak belum seperti orang dewasa. Lihat tanda-tanda kalau anak sudah mulai merasa bosan, lelah, ngantuk. Biasanya rentang waktunya sekitar 20 menit.
Kalau orangtua rajin menerapkan briefing dan role playing sejak usia balita, maka orangtua akan menuai hasilnya di usia anak 7-8 tahun. Hidup akan smakin mudah.

Saat tulisan ini dibuat, Andin berusa 3 tahun 7 bulan.
Tulisan ini sudan pernah di posting di Instagram, klik di sini.

Thursday, May 23, 2019

Menghilangkan Trauma atau Takut Angin


klik di sini.Mamaaaa !!!
Mamaaaa....!!! Andin takut angin takut....takut!!!



Beikutnya Aandin akan langsung minta gendong dengan mata terpejam dan memeluk saya dengan kuat. Reaksi Andin mirip tokoh utama dalam film horor saat hantunya keluar. Parahnya lagi, setiap keluar rumah lalu terasa atau terlihat ada angin, maka Andin akan bereaksi ketakutan.





Apa yang salah?Kok tiba-tiba takut angin gini?







Waktu training Enlightening Parenting (EP) saya tanya ke mbak Okina Fitriani, belie founder Enlightening Parenting gimana cara menghadapi kasus diatas?

Eh, mbak Okina justru balik tanya, kenapa kok Andin bisa takut angin?
Mulai kapan takut angin?


Saya melongo, nah loh!

Dalem hati iya juga ya, saya Mamanya sendiri masa nggak ngeh soal anaknya ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ˜ฅ

Kalau di sekolah nggak mau kipas anginnya dinyalain, tapi kalau di rumah nyalain kipas angin malah girang. Andin justru mainan di depan kipas angin.
Di sekolah nggak mau kegiatan outdoor, tapi kalau jalan-jalan sore muter kampung dia biasa aja ๐Ÿ™„

Tapi iya ya, mulai kapan kok begitu?

Dan kenapa?

Mamanya fokus dimasalah, bukan disolusi. Stiap Andin histeris, paniknya Andin nular, emosi Mamanya nular juga ke Andin, jadi muter-muter aja ๐Ÿ˜‚

Kalimat andalan jaman belum kenal Enlightening Parenting itu :

"Nggak papa Andin, itu anginnya nggak papa, lo".
"Kamu tu kenapa, e? Wong nggak ada apa-apa".
Andin mikir nggak ada yang percaya apa yang dia rasain.

"Iya anginnya emang serem ya, Ka. Sini-sini peluk Mama".
Andin makin percaya angin itu nyeremin.
Lahh???


Setelah belajar EP baru ngeh, omongan Ibu macam apa ini ๐Ÿ˜ฅ

Kesalahan-kesalahan komunikasi sukses membuat Andin smakin histeris. Rapport (kedekatan) gagal terbangun dan Mamanya semakin bingung. Apalagi kalau di depan banyak orang ๐Ÿ˜‚

Singkat cerita, sesuai saran mbak Okina Fitriani juga salah satu team sharing Enlightening Parenting, mbak Dini Swastiana, saya mulai membangun kedekatan lewat pillow talk.

Jadi, tiap malam selesai baca buku atau mainan, saat suasana hati Andin oke dan sikon menyenangkan, Andin jadi mudah cerita banyak hal.

Proses ini nggak selesai sehari-dua hari. Kadang Andin nggak mood atau kalau ditanya ada kalanya juga dia menjawab dengan ngasal alias ngawur. Sampai akhirnya ketemu ternyata Andin bukan takut anginnya, tapi daun Atau benda yang berkibar-kibar tertiup angin.


Nah...
Alhamdulillah.

Lalu, pertanian berikutnya adalah sejak kapan?๐Ÿค”


Tanpa sadar, kamilah yang memasukkan limiting belief (keyakinan yang tidak memberdayakan) ke Andin soal angin yang menakutkan ๐Ÿ™ˆ
Contoh :
Saat Andin keluar rumah main dengan tetangga, biasanya saya tanyanya :

"Anginnya gede nggak, Ka? hati-hati ya""Main di dalem aja, Ka. Tuh liat angin, kayaknya mau hujan""Ka, masuk yuk. Anginnya gede ni""Liat, Ka. Hujan angin. Hiiiii...serem ya"  
Eh, bilangnya sambil nunjuk depan rumah yang banyak pohon ketiup-tiup angin. ๐Ÿ˜”

Tambah klop saat di rumah eyangnya, kalau Andin mau jalan-jalan sama Atung naik sepeda atau motor keliling kampung, maka eyangnya akan makein jaket Atau sweater sambil bilang "biar nggak masuk angin" atau "nanti kena angin". ๐Ÿ˜

Terus gimana, dong? (Tunjuk hidung).


Meminta maaf ke Andin, karena kata yang diulang terus-menerus membuat Andin menangkap value yang salah.

“Maaf ya Andin, gara-gara Mama bilang angin terus jadi Andin skarang takut angin”.
Saya dan suami bersepakat mengurangi kalimat angin yang menjurus pada limiting belief tadi.

Step berikutnya karena sudah paham bahwa Andin takut dibenda, entah daun, bendera, hiasan-hiasan di kelas yang semuanya berkibar-kibar saat ketiup angin. Maka, saat pillow talk saya mulai memasukkan pemahaman tentang "benda berkibar = tarian", karena saya paham Andin suka banget dengan tari menari.

Kira2 waktu itu begini percakapan kita :


Mama (M) : Andiiiin, Andin suka nari, kan?
Andin (A) : (ngangguk).


M : Kalau nari itu gimana, ya?
A : Gini (uget-uget dikasur).

Kaya balet itu lo, Mama.

M : Ooiyaa... bagus nggak balet itu?
A : Bagus!! Andin suuukaaaa balet.


M : Ahhh iya, Mama juga suka liat Andin nari balet.

Kalau daun yang ketiup angin itu gimana, ya?
A : kaya gini (tangannya gerak-gerak).


M : Wahhh...bagus, mirip nari balet tadi, ya?
A : (diam sesaat)

Tapi daunnya gerak-gerak karena angin.


M : Ooo...kaya Andin ya kalau denger lagu snoopy terus gerak joget-joget?
(Mukanya andin kaya lagi mbayangin).
Fyuuuuush...fyuuushhh...(niru suara angin,nadanya dibikin kaya lagu Snoopy kesukaan Andin), terus daunnya gerak joget-joget, deh.
A : Iyaaa...daunnya joget-joget ya Mama, nari balet kaya Andin.

M : Jadi, kalau Andin liat daun gerak-gerak itu gimana?
A : Daunnya lagi joget, nari balet.
M : Sippp...daunnya nari, bagus yaaa Andin.


Kira-kira kurang lebihnya gitu obrolan kami.

Setelahnya, histerisnya berkurang drastis.
Kegiatan outdoor di sekolah jadi lancar. Sesekali dia seperti waspada kalau lihat angin, tapi dengan mudah kembali ceria saat diingatkan tentang tarian tadi. Informasi ini juga saya beritahu ke gurunya juga ke bapaknya Andin, agar kami satu suara.
Saat kejadian ini, usia Andin 3 tahun 8 bulan.

Tulisan ini pernah di posting di instagram, klik di sini.

Menjelaskan Konsep Mati Atau Meninggal Pada Balita

Kenapa ikannya mati, Mama?
Kalau mati nggak bisa hidup lagi?

Meninggal itu apa, Mama?
Kenapa kok meninggal?
Kalo nggak bisa hidup lagi, terus ketemu Alloh nya gimana?


Saya adalah satu-satunya yang paling dipercaya Andin, tempat bertanya semua hal tanpa kecuali.
Jadi, apapun yang keluar dari mulut saya adalah BENAR, menurut Andin.
Mulut & pikiran ini dirasa udah hati-hati betul, tapi kadang 'kepleset'. Kadang ni saya nggak kepikiran, eh dia malah mikir itu. ๐Ÿ˜‚

Singkat cerita, saya tanya di grup Enlightening Parenting (EP) tentang konsep menjelaskan meninggal atau kematian untuk anak. Alhamdulillah, ada sharing dari Canunkamil penulis buku anak Sabar-Syukur SakeenaFamily yang trnyata alumni EP juga & satu grup. Nah, obrolan saya di bawah ini memodel dari obrolan beliau & putra-putranya.

Slesai Andin mandi sambil saya temani dia pakai baju, saya minta ijin buat brangkat layat setelah dia nanti selesai sarapan.

Andin (A) : Kenapa Mama mau layat?
Mama (M): pak A meninggal ka, tadi subuh.

A : Meninggal itu apa, Ma?
M : ๐Ÿ˜Š
(Momen pas nih, saya ambil 2 mainan Andin (Kitty sama Mickey, semua pakai baterai, yang satu masih on, yang satu baterainya sudah habis).
Andin ini Kitty kok bisa goyang-goyang kenapa ya?
A : Kan ada baterainya.

M : Ini Mickey kok nggak bisa goyang-goyang ya padahal ada baterainya juga?!
A : Kan baterainya abis, belum dibeliin Mama.

M : Nah, meninggal itu kalau kita batereinya habis, Ka.
Kalo mama pasang baterai baru sekarang di Mickey, Andin tau ga kapan baterai Mickey habis?
.
A : yaaa kalo mickeynya udah ga gerak2 lagi
.
M : nah kapan tu? Tau ga Andin kapan mickeynya gak gerak2 lagi?
.
A : *geleng2*
.
M : Nah, kita juga ga pernah tau kapan baterai kita habis. Itu rahasianya Alloh.
Kalau baterai kita habis, kita meninggal. Nggak gerak-gerak lagi.

A : Baterainya dimana mama tarohnya? (Andin ngeliatin badan dia sendiri).
Bisa dibuka nggak?
M : ๐Ÿ˜Š
Baterainya kita tuh disini, Ka. (Saya nunjuk jantung).
Nah, bisa dibuka nggak tu ya, Ka?
A : Nggaaaak, kan ada kulitnya.

M : Nah, karena kita hidup cuma satu kali, Ka.
Yg penting bukan kapan baterainya habis, tapi yg paling penting, selama baterainya Andin yang di sini ini (nunjuk jantung) masih nyala, kita harus berbuat baik terus ya ka, sama siapapun ๐Ÿ˜Š.

Mbak Okina Fitriani, founder Enlightening Parenting memberikan catatan penting:
MENINGGAL = JATAH HABIS

Jangan bilang diambil Allah ya.
Anak akan berpikir kok Allah ambil-ambil ayah ibu dan orang2 yg aku sayangi?
Salahku apa?
Konsep diambil akan disamakan spt ketika di hukum.

Tulisan ini Sudan pernah di posting di instagram, klik di sini.

Friday, May 17, 2019

11 HARI TANPA MAMA & BAPAK


Hampir 5 tahun saya jadi ibu belum pernah sekalipun pisah dengan Andin selama 24 jam. Kalau pisah dengan Bapaknya mah sering ya. Buahahaha…๐Ÿคฃ
Mau protes kepalang bacut. Dari dulu kan udah tahu kerjanya ‘antara ada dan tiada’ lalu pas milihnya SADAR. Jadi sekarang bagian dari konsekuensi pilihan, NGGAK PANTES PROTES. Sungkem Bapak Hen, jangan lupa jatah baju lebaran. *Loh ๐Ÿ˜✌
Kalau ada yang baca postingan ME TIME tahun 2018, sampai saat ini, itulah waktu terlama saya dan Andin berpisah. Maka, kebayangkan dag dig dug hati menjalani operasi yang estimasi waktunya jelas lebih dari 24 jam.
Yah, daripada rungsing sendiri, mending saya usaha yang kendalinya di diri. Memakai 5 pilar Enlightening Parenting (EP) dan salah satu metode instalasinya, yaitu BRIEFING & ROLEPLAYING.

1. Diskusi dan Mengelola Emosi.
Sejak tahu ada kemungkinan operasi, saya mulai diskusi dengan Bapak Hen mencari alternative apa aja buat Andin. Lalu, memastikan alternative ini bisa di jalani.
Contoh: ada pilihan menitipkan Andin ke Onti-Om alias adek saya di Purwokerto, so memastikan kesediaan mereka berdua. Kan gimana gitu ya kalau ini mulut udah kasih alternative dan dipilih Andin, eeeehh ternyata nggak bisa dijalani ๐Ÿ˜‚.
Di tahap ini, masih sering tu hati saya mencelas-mencelos. Ya deg-degan mau operasi, ya deg-degan ninggal anak, ya deg-degan hasil, dll.
Taaapiii, daripada nularin khawatirnya saya ke Andin, mending pakai pilar pertama EP, MENGELOLA EMOSI.
Baper-baper? Ya self distance alias disosiasi, tekhnik yang saya pakai itu yang terbang.
Melow-melow? Ya reframing.
Butuh haha hihi? Ya pakai anchor.
Penak men uripmu (red: enak banget hidupmu), Mbak?!๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ
Cobalah yang ngomong melihat saya saat latihan dulu itu.
Pakai grotal gratul, bahkan sekarang masih latihan disosiasi plus senyum 20 detik selama 21 hari tanpa alasan. Itu saya dapet resep dari mbak Okina Fitriani saat dialog alumni EP.Saya buat  tabel, tempel, kalau ngelakuin centang. Kalau hari itu kelewat, berarti ulangi dari awal, pokoknya genep 21 hari tanpa bolong. Biar sakti seperti mbak Oki ๐Ÿ˜๐Ÿคฃ
Detail tentang apa itu reframing, apa itu anchor bisa di klik.



2. Sounding, Fokus Pada Tujuan, dan Ketajaman Indra.
Ini saya mulai berminggu-minggu sebelum hari H dengan bahasa sesederhana mungkin.


“Ada bakteri di sini (payudara) Mama. Bakteri ini bikin Mama sakit. Nah, penyakitnya ini mau diambil sama dokter biar Mama sehat, namanya operasi. Sebelum dan sesudah operasi Mama boboknya di rumah sakit. Blablabla”.




Lalu mulailah hari-hari saya diisi dengan banyaknya reaksi dan pertanyaan Andin yang silih berganti.
Apa itu operasi?
Kenapa harus operasi bukan minum obat aja?
Bedanya apa dengan Andin pas bobok (opname) di rumah sakit?
Kenapa Andin nggak boleh nemenin Mama?
Apa ini apa itu sampai protes kenapa Andin ini kenapa itu.
Bahkan Andin jadi punya cita-cita menciptakan suntikan dan obat buat semua Mama-Mama yang sakit biar nggak usah tidur (opname) di rumah sakit. Aamiin, nak.
Ditahap ini Andin juga diberikan pilihan berujung sama (tidak bersama saya selama di RS).
Andin boleh pilih mau tinggal dengan Uti-kakung di Jogja atau dengan Onti Om Adit-Oma Opa di Purwokerto. Saya jembrengin (red: paparkan) plus minusnya masing-masing pilihan. Jadi, Andin punya gambaran apabila bersama uti-kakungnya gini lo enaknya, nggak enaknya ini, begitu juga buat pilihan bersama Oma-Opa Onti-Om Adit.
Ooo, jangan ditanya proses kedua ini semulus tulisannya ya. Andin sempat menolak, bahkan nangis karena saya salah menjawab. Jadi harus mengelola emosi, membriefing diri sendiri, menyiapkan berbagai alternative jawaban, plus sehat mental, jiwa dan raga itu PENTING!
Menyambung ke pilar pertama EP, MENGELOLA EMOSI.
Jadi, waktu itu ya perlahan, alon-alon wajib kelakon (red: pelan-pelan wajib terjadi) ๐Ÿ˜‚*halah. Sambil tiduran, sambil mainan, selesai baca buku, pokoknya pas keliatan (ketajaman indra ala #enlighteningparenting) mood oke, seeding lagi. Anaknya badmood ya tunda. Udah begitu saja terus hari-hari saya. Hahaha…
Meliak-liuk, naik-turun sampai tahap Andin mau menerima, bahwa yak operasi memang terbaik untuk Mama dan anak dibawah 12 tahun dilarang masuk area rumah sakit.

3. Briefing & Roleplaying dan Bangun Kedekatan
Andin memilih tinggal di Purwokerto selama saya opname.

Jadi, wajib membangun kedekatan alias rapport building lebih intens pada kesayangan saya yang akan dititipin Andin. Sering-sering telepon, komunikasi dengan santun, pakai strategi komunikasi dan focus pada hal baik yang sudah mereka lakukan buat saya, suami dan Andin. Rapport building ke adek dan adek ipar saya Alhamdulillah lebih mudah lagi. Sampai sekarang, sahabat terbaik saya ya adek saya. Jadi, kami bak sejoli yang terpisah karena masing-masing sudah punya imam, tapi kelekatan kami berdua insyaalloh selalu terjaga. Cooo cwiiit. Haaai dek! ๐Ÿคฃ๐Ÿ˜


Jadi, saya kirim beberapa hal via email ke Onti (adek saya). Minta tolong Onti ngeprint lalu tempel di tempat-tempat yang mudah dijangkau dan sering dilihat.
– Makanan apa yang Andin doyan, makanan apa yang perlu siasat lebih
– Detail cara masak sampai cara penyajian
– Info memuji dan menegur efektif
– Cara membangunkan tidur Andin
– Cara membuat kesepakatan diawal
– Aturan-aturan yang kami sepakati di Jogja untuk di Purwokerto
– Jadwal kegiatan Andin saat adek dan adek ipar saya kerja.
Dan yang wajib diingat adalah saya ini sifatnya NITIP anak tur NGREPOTI.
So jangan sampai mereka terbebani dengan cara pengasuhan yang biasa saya lakukan. Wis NITIP njuk kokean syarat, lak njeleih ๐Ÿคฃ (red: sudah nitip, malah kebanyakan syarat, nyebelin).
Jadi, tetek bengek (red: berbagai hal) print-printan itu BUKAN semata-mata agar sesuai kaidah pengasuhan saya, tapi niatnya adalah ingin memudahkan keluarga di Purwokerto terutama Oma-Opa menghandle Andin saat Onti-Om kerja. Usia beliau berdua sudah rentan lelah, paling nggak daftar diatas bisa jadi “P3K” saat kebingungan soal Andin.
Dengan ijinNya adek saya yang belum ikut training EP, tapi sudah baca buku The Secret of Enlightening Parenting mencoba menerapkan beberapa tekhnik, terutama briefing & roleplaying. Adek saya merasa bahwa EP mudah diaplikasikan. Barakallah mbak Oki ๐Ÿ’—.
Anak itu kan dasarnya taat, maka rapport building, kesepakatan di awal, briefing & roleplaying dan konsisten dalam menegakkan aturan bisa menghindarkan diri dari emosi-emosi yang nggak perlu ๐Ÿ˜†.

4. Briefing & roleplaying Andin.
Ini sejalan dengan yang saya lakuin ke keluarga Purwokerto.
Saya buat if scenario :
Kalau Onti-Om Adit kerja semua, Andin gimana.
Kalau Oma saraf kejepitnya kumat, Andin gimana.
Kalau Opa lututnya sakit lagi dan nggak bisa jalan, Andin gimana.
Kalau Oma masaknya nggak enak, Andin gimana.
Aturan dirumah Oma-Opa gimana, dst.
Mengingatkan tentang anchor berani yang sudah dia punya saat persiapan masuk sekolah.
Mengajari Andin healing diri sendiri saat kesal, bete atau marah dengan Oma-Opa atau Onti-Om. Lalu, mendiskusikan ke Andin saat kangen dengan Mama itu harus gimana. Ajaibnya, keluar jawaban dari dirinya:
Mama (M)         : Kalau Andin kangen sama Mama gimana, nak?
Andin (A)          : Ya bilang sama Oma-Opa atau Onti-Om Adit, ‘Oma Opa Onti Om Adit, Andin kangen Mama’. (Ini saya ngajarin juga ke Oma-Opa gimana biar nggak baper kalau cucunya kangen Mamanya. Jangan sampai jadi sedih berjama’ah. Hahaha..๐Ÿ˜…).
M   : Kalau masih kangen gimana?
A    : Andin videocall.
M    : Kalau setelah videocall masih kangen gimana?
A     : Ya Andin ambil foto Mama (Andin menyiapkan 2 foto saya buat dibawa ke Purwokerto).
M     : Kalau masih kangen lagi gimana?
A      : Andin berdoa sama Alloh biar kangennya hilang terus elus-elus disini (dada) ada Mama.
M     : Sip. Kita coba yuk… (roleplaying).
Elus-elus di dada itu sebetulnya anchor yang terinstall saat Andin memeluk saya erat-erat waktu kami diskusi soal kemungkinan saya operasi.Berikutnya roleplaying sesering mungkin.Dan lagi-lagi, realita tak semulus tulisannya ๐Ÿคฃ.
Saat roleplay ada banyak hal yang saya diskusikan dengan Andin. Andin juga keberatan di beberapa hal, akhirnya saling koreksi dan jadilah kesepakatan dua arah.
Jadi inget saat dialog alumni EP mbak Okina mengingatkan, bahwa briefing & roleplaying bukan sekedar TELL-TELL, “kamu nanti gini ya, kamu jangan gitu ya”. Kalau begitu itu baru TELL. Jadi, kesepakatan itu harus dua arah, WIN-WIN.Saya juga melibatkan Andin dalam packing baju, mainan, bahkan topi jalan-jalan.Lalu, malamnya sebelum berangkat ke Purwokerto saya ceritakan singkat dari awal sampai akhir proses yang sudah kami lakukan.

5. Anti Julid dengan Fleksibel dalam Tindakan๐Ÿ˜
Ada beberapa hal yang saya, suami, adek dan adek ipar saya hadapi.Orangtua kami paling nggak nyaman kalau anak-anaknya “nuding-nuding alias sok keminter” tentang hal yang sudah mereka lakukan duluan dan hasilnya sudah terlihat, yaitu pengasuhan.Ya kan, anaknya sekarang udah punya anak, dengan cara pengasuhan mereka dulu itu ya anaknya tetep hidup, bahkan mampu ini itu. So, siapa juga yang mau disalah-salahin ๐Ÿ˜๐Ÿ˜.
Maka, tugas saya “menjaga” agar beliau berdua tidak merasa diajari apalagi terbebani, termasuk menjaga agar rumah Purwokerto minim konflik. Tentu yang saya ajari itu adek dan adek ipar saya. Sudah bukan ranahnya orangtua kami dipaksa mengerti, tapi anak-anaknyalah yang harus fleksibel dalam menyampaikan apapun, agar tujuan tercapai tanpa ada ribut-ribut.
Lalu saat mau memberitahu orangtua soal beberapa rules yang saya terapkan ke Andin, maka saya briefing & roleplaying ulang Andin di depan Oma-Opa.Ini cara saya yang ampuh. Selain memantapkan Andin, sekalian seeding tanpa disadari beliau berdua. Hahahaa… Mereka jadi tahu tanpa merasa diberi tau.Tujuan tercapai tanpa ribut-ribut ๐Ÿคฃ
Ada kritik nggak?Jelas ada๐Ÿคฃ. Dengarkan dan terima apa yang beliau sampaikan. Alasannya beliau berdua nggak tega ini itu sama Andin. Kan simbah pengennya cucu bahagia, apapun yang diminta bakal dikasih selama mereka bisa ngelakuin.Tapi saya paham, ada if scenario, Andin cukup kuat untuk menerapkan jadi nggak ada kekhawatiran ๐Ÿค—.

6. Doa
Saya teringat kalimat mbak Okina Fitriani di blog beliau, bahwa hasil bukan milik kita. Hasil itu milik Alloh, tugas manusia menggenapkan ikhtiar semaksimal mungkin, maka doa adalah bagian dari ikhtiar yang harus berjalan seiring.
Do’a bukan cuma senjata pamungkas tetapi do’a adalah basic dari keseluruhan upaya.
Alhamdulillah yang belum pernah 24 jam terlepas dari Mamanya, ternyata mampu 11 hari di Purwokerto dengan kesepakatan dan aturan yang konon kata Ontinya sangat mudah diingatkan. Semua ini tidak terlepas dari ijinNya dan support system yang luar biasa. Suami yang memberikan restu, Orangtua yang masih berkenan berupaya, bahkan adek dan adek ipar saya yang mau meluangkan waktu menjadi sahabat terbaik bagi Andin ❤.
Sumber: Nuri Aprilia
IG @nuriiaprilia