SOCIAL MEDIA

Tuesday, March 17, 2026

Dibalik Kata yang Bernama DUKA

 

"Dari banyaknya cara kehilangan, yang paling menyakitkan adalah ditinggalkan karena kematian… karena setelahnya, yang ada hanyalah rindu tanpa bisa bertemu lagi."

Beberapa hari yang lalu, saya diam beberapa detik membaca postingan Sheila Dara, beberapa hari setelah kepergian suaminya, Vidi. Postingan yang kemudian saya cari-cari lagi, tapi nihil.

Saat itu saya baca dua-tiga kali. Mata saya menerawang. Karena kalimat itu terlalu familiar.

Saat kehamilan pertama, setelah perjuangan panjang untuk bisa hamil, dokter dengan hati-hati menyampaikan bahwa janin dalam kandungan saya yang sudah beberapa bulan usianya, nggak lagi berkembang. Ya. Saya keguguran.

Nggak langsung nangis. Saya hanya diam. Bahkan sampai beberapa jam setelah proses kuretase.

Dan merelakan itu ternyata butuh waktu yang jauh lebih lama.

Belakangan saya tau, diam itu cara otak melindungi diri dari sesuatu yang terlalu besar untuk diproses sekaligus.

· · ·

Saat itu, seorang sahabat menyampaikan ke saya tentang tahapan untuk bisa legowo.

Elisabeth Kübler-Ross, psikiater asal Swiss, memperkenalkan 5 tahap duka. Ini bukan pakem urutan wajib. Bisa bolak-balik, bisa loncat dari satu tahap ke tahap lainnya, bisa juga hanya beberapa tahap aja yang dirasain. Nggak semua.

Denial

"Ini beneran? Janinku nggak berkembang? Meninggal?" Otak butuh waktu menyesuaikan diri dengan kenyataan yang tiba-tiba berubah. Makanya orang yang baru kehilangan, kadang masih refleks nglakuin kebiasaan-kebiasaan sebelumnya.

Kalau saya, saat itu refleks ngelus perut, ngrasa masih ada yang gerak-gerak, seolah masih ada "dia".

Anger

Marah sama keadaan, sama dokter, bahkan Allah swt. "Kenapa aku ya Allah?"

Ini bukan tanda lemah iman. Ini tanda pernah benar-benar ngerasa sayang. Cinta.

Bargaining

Berandai-andai. "Seandainya waktu itu aku sempet minta maaf… Seandainya aku cepet bawa ke dokter…"

Pikiran nyari-nyari kendali atas sesuatu yang nggak bisa dikendalikan.

Depression

Riset membuktikan duka memicu stres. Kortisol naik, imun melemah, tidur keganggu.

Acceptance

Bukan berarti udah prengas-prenges atau berhenti nggak inget-inget lagi, nggak kangen. Tapi, acceptance adalah tahap dimana mulai bisa hidup berdampingan dengan kehilangan itu.

Meaning (ditambahkan David Kessler)

Tahap berhasil menemukan makna. Makna dibalik kehilangan.

· · ·

RISET: LUNDORFF & BONANNO (2020)

Pada 857 orang yang kehilangan pasangan, penelitian menemukan bahwa mayoritas orang yang berduka punya pola resilient, ngrasa berat di awal, tapi dengan berjalannya waktu akhirnya bisa menerima.

Oiya, cara pria dan wanita berduka itu BEDA.

Pria ngrasain emosi berat di awal-awal berduka, lalu berjalannya waktu bisa cepat membaik.

Kalau wanita justru sebaliknya. Seiring berjalannya waktu, kadang emosinya justru meningkat. Bukan berarti nggak ikhlas. Bukan.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un bukan sekadar kalimat. Ini pengakuan bahwa setiap jiwa adalah titipan, dan semua adalah ketetapanNya.

Boleh sedih, boleh nangis nggak?
Boleh. Rasulullah ﷺ sendiri nangis saat putranya Ibrahim wafat.

Dan nangislah saya, saat bapak Hen memeluk, mengelus rambut setelah proses kuretase sambil membawanya dalam balutan kain putih. "Nangislah. Boleh. Take your time."

Ta'ziyah. Hadir, nemenin keluarga yang ditinggalkan. Bukan nasihat panjang. Bukan ceramah tentang ikhlas apalagi iman. Cukup hadir. Nemenin.

Hal ini sesuai dengan riset-riset yang ada, bahwa koneksi sosial adalah faktor paling nentuin dalam pemulihan duka.

· · ·

Karena saya juga pernah ada di tahap itu. Bertahun-tahun lamanya. Untuk paham bahwa Allah swt memang menyiapkan "itu" untuk dilalui dulu, agar saya bisa lebih "siap" hari ini.

Caption Sheila Dara mengingatkan saya pada "rindu" yang sama. Kalau sekarang ada yang masih berduka dan lelah bertanya-tanya kenapa…? 

Take your time.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."


رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ

"Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.."

Al-Fatihah……….


Yogyakarta, Maret 2026

https://www.instagram.com/nuriiaprilia/

Ada Ibu yang Bekerja Bukan Demi Eksistensi, Namun Kondisi

Menjadi ibu sekaligus pekerja adalah dua peran yang masing-masing mengandung hak dan kewajiban. Keduanya tidak selalu mulus berjalan beriringan. Di satu sisi ada tanggung jawab profesional yang tidak bisa diabaikan. Di sisi lain, ada anak, ada rumah, ada kebutuhan yang juga nyata dan mendesak. Ketegangan antara dua peran ini bukan sekadar soal waktu atau tenaga. Keduanya sama-sama penting, seolah pilihan itu tidak ada.

Salah satu momen paling berat yang sering dialami ibu bekerja adalah ketika anak jatuh sakit. Bukan sakit ringan yang cukup dengan obat dan istirahat, tapi sakit yang membutuhkan perawatan intensif dan kehadiran ibu jadi bagian penting dari penyembuhan itu. Namun kondisi pekerjaan tidak memungkinkan untuk izin meninggalkan. Bukan karena perusahaan tega (atau memang?), tapi kontrak kerja mengatakan demikian. Bagian dari akad yang ditandatangani dengan sadar.

Ada istilah psikologis untuk kondisi ini, disebut role conflict. Konflik yang muncul ketika tuntutan dari dua peran yang diemban saling bertabrakan dan tidak bisa dipenuhi secara bersamaan. Role conflict bersifat identity destroying. Ibu yang mengalaminya bukan tidak bertanggung jawab. Justru karena ia terlalu bertanggung jawab pada dua hal sekaligus, itulah yang membuatnya merasa sesak.

Ini juga yang disebut approach-avoidance conflict. Pergi kerja adalah pilihan yang menarik karena ada kewajiban dan kebutuhan finansial yang nyata (approach). Tapi pergi kerja juga menghadirkan perasaan bersalah, karena harus meninggalkan anak yang sedang butuh ibunya (avoidance). Avoidance conflict terbukti secara eksperimental lebih sulit diselesaikan dibanding jenis konflik lainnya.

Ingat materi handling baby di e-learning Enlightening Parenting? Di video tersebut saya menjelaskan salah satu penelitian yang dipublikasikan di neuropsychopharmacology, menggunakan fMRI, yang menunjukkan bahwa sinyal wajah bayi, baik yang sedang senyum maupun menangis, mengaktifkan dopamine-associated brain reward circuits, termasuk area ventral striatum dan hypothalamus/pituitary yang berkaitan dengan oksitosin. Artinya, ketika seorang ibu memaksakan diri berangkat kerja sementara anaknya sakit di rumah, tubuhnya secara neurologis sedang melawan dorongan yang sangat kuat untuk tetap tinggal menemani anak. Dan ternyata, produktif dalam kondisi seperti itu membutuhkan energi yang jauh lebih besar dari biasanya.

Yang memperumit lagi adalah cognitive labor, yaitu beban berpikir yang tidak kasat mata. Tubuhnya di kantor, tapi pikirannya di rumah. Sosiolog Allison Daminger dari Harvard, dalam penelitiannya di American Sociological Review tahun 2019, mendefinisikan cognitive labor sebagai proses anticipating needs, identifying options, making decisions,dan monitoring progress. Karena sifatnya yang melelahkan namun sering tidak terlihat, ia menjadi sumber konflik yang persisten. Cognitive labor ini terbukti lebih bias gender dibanding pekerjaan rumah tangga fisik. Ibu menanggung porsi yang jauh lebih besar, terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan anak.

Lalu harus bagaimana?

Pertama, kenali dan akui apa yang sedang dirasakan, tanpa menghakimi diri sendiri. Ini yang disebut self-compassion, yang terdiri dari tiga komponen: self-kindness (bersikap baik pada diri sendiri), common humanity (menyadari bahwa tantangan ini dialami oleh jutaan ibu lain), dan mindfulness (hadir dengan sadar tanpa larut berlebihan). Self-compassion terbukti berkorelasi dengan berkurangnya depresi dan rasa cemas, serta meningkatnya kepuasan hidup.

Kedua, prioritaskan secara strategis. Di sinilah peran manusia sebagai sebaik-baik ciptaan-Nya berfungsi, untuk berpikir dan berstrategi. Gunakan Eisenhower Matrix, bedakan mana tugas yang urgent & important yang harus ditangani sendiri, mana yang urgent but delegable yang bisa dikerjakan orang lain. Menemani anak adalah urgent and important, tapi tidak semua aspeknya harus dilakukan sendiri. Melibatkan pasangan, orang tua, atau orang yang dipercaya bukan berarti GAGAL sebagai ibu. Itu tanda ibu cukup bijak untuk tahu bahwa kapasitas manusia ada batasnya.

Ketiga, bangun support system sejak jauh-jauh hari. Dalam manajemen prioritas dikenal kuadran urgent but not important, yaitu tugas-tugas yang mendesak tapi sebenarnya bisa didelegasikan. Delegasikan sebelum krisis terjadi, saat anak masih baik-baik saja. Penelitian tentang maternal well-being konsisten menunjukkan bahwa dukungan sosial adalah salah satu buffer paling kuat terhadap stres pengasuhan. Kekuatan seorang ibu bukan diukur dari seberapa banyak yang ia tanggung sendirian, tapi dari seberapa bijak ia tahu kapan harus meminta tolong.

Dan satu hal terakhir yang paling penting untuk diingat.

Dinar yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu. (HR. Muslim)

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menegaskan bahwa nafkah kepada keluarga lebih afdhal dari sedekah sunnah mana pun. Maka setiap rupiah yang dihasilkan ibu bekerja, dengan niat ibadah untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok keluarga, akan menjadi sedekah terbaik dalam hidupnya. Dan Ia Maha Melihat lagi Maha Tahu setiap jengkal usaha, setiap bulir keringat, setiap konflik batin yang diupayakan diselesaikan, bahkan yang terasa tidak terlihat oleh siapa pun....


Yogyakarta, 17 Maret 2026

https://www.instagram.com/nuriiaprilia/