SOCIAL MEDIA

Friday, March 27, 2026

Kenapa Rutinitas untuk Anak Itu Penting?

 


Oleh Nuri Aprilia, M.Pd.

Spesialis Pendidikan Anak Usia Dini | nuriaprilia.com

Tahun 2024, peneliti dari University of Wisconsin-Madison, Selman dan Dilworth-Bart, menerbitkan sebuah systematic review yang menelaah 170 studi dari tahun 1950 sampai 2020. Tujuh puluh tahun. Dan kesimpulannya satu. Apa itu?

“Rutinitas adalah sesuatu yang penting banget untuk tumbuh kembang anak.”

Ya kognitif. Ya regulasi diri. Ya keterampilan sosial-emosional. Prestasi akademik. Kesehatan fisik. Termasuk juga kesehatan mental. Hampir semua aspek tumbuh kembang anak ternyata punya hubungan dengan rutinitas yang konsisten di rumah.

Tiga Mekanisme

Selman & Dilworth-Bart (2024) merangkum bahwa rutinitas memengaruhi perkembangan anak melalui tiga mekanisme utama.

1.  Struktur. Rutinitas kasih kerangka yang jelas buat otak anak untuk mengambil keputusan. Ketika anak tahu bahwa setelah makan ada sikat gigi, dan setelah sikat gigi ada tidur, otak nggak perlu lagi buang-buang energi untuk tebak-tebak buah manggis, apa yang terjadi selanjutnya ya?

2.  Prediktabilitas. Ketika anak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, otaknya nggak perlu pakai energi untuk terus-menerus alert atau waspada. Alert atau waspada tadi memproduksi kortisol atau hormon stres. Dengan rutinitas yang jelas, kegiatan jadi terprediksi, maka kortisol turun. Anak jadi lebih tenang, lebih fokus, dan lebih siap belajar.

3.   Konsistensi. Kegiatan yang berulang dengan pola yang sama secara pelan tapi pasti melatih anak untuk bisa mengatur pikiran, emosi, dan perilakunya sendiri. Inilah yang para peneliti sebut sebagai dasar self-regulation atau kemampuan yang kelak jadi salah satu kemampuan yang penting di sekolah dan dalam kehidupannya.

Otak anak kan masih berkembang. Maka, setiap kali rutinitas diulang, misalnya mandi dulu, lalu makan malam, lalu sikat gigi, kemudian tidur, maka otak akan membuat peta urutan yang makin jelas. Dan kalau petanya sudah jelas, energi yang tadinya habis untuk bertahan di tengah ketidakpastian aduh habis ini aku ngapain ya? bisa dialihkan ke hal yang jauh lebih penting, misalnya bermain, belajar, dan tumbuh.

Kortisol

DeCaro dan Worthman (2011), yang studinya dikutip dalam review Selman tadi juga mengukur kadar kortisol pada anak-anak yang transisi masuk kindergarten atau TK. Hasilnya adalah anak-anak yang rutinitas di rumahnya konsisten, ternyata kadar kortisolnya lebih rendah dan lebih stabil dari hari ke hari.

Jadi rutinitas yang konsisten itu bukan cuma “bagus secara psikologis” tapi efeknya juga terukur langsung di level biokimia tubuh anak. Ini relevan banget untuk momen pasca liburan panjang seperti setelah lebaran ini, di mana anak-anak baru saja melewati beberapa minggu tanpa jadwal yang teratur, plus paparan stimulasi sosial yang cukup tinggi dan perubahan-perubahan lain yang berbeda dibandingkan rutinitas hariannya.

Rutinitas = Rasa Aman

Waktu menulis tesis, salah satu teori yang saya jadikan landasan adalah Attachment Theorynya John Bowlby. Dan temuan dalam review ini nyambung banget sama teori tersebut.

Menurut Bowlby (1988), rutinitas harian seperti makan bersama, bermain, tidur di jam yang sama, ternyata mendorong terbentuknya kelekatan yang aman (secure attachment) antara anak dan pengasuhnya. Caranya? Ya lewat prediktabilitas dan keteraturan itu tadi.

Anak akan merasakan bahwa dunianya bisa dipercaya. Bahwa orang tuanya bisa diandalkan. Dan dari rasa aman itulah segalanya bisa tumbuh. Keberanian menjelajah, kemampuan belajar, kesiapan menghadapi hal baru.

Rutinitas bukan berarti menciptakan keluarga yang kaku dan serba ketat jadwalnya. Rutinitas yang efektif adalah yang hangat dan bisa diprediksi, yang memberi anak sinyal bahwa di rumah ini ada urutan yang bisa dipegang, ada orang tua yang konsisten hadir.

Sampai Remaja

“Kalau anaknya sudah besar, apa masih relevan?”

Review ini menemukan bahwa rutinitas yang dijalankan di usia 10–18 tahun ternyata masih berkaitan dengan pencapaian akademik yang lebih baik, keterlibatan lebih tinggi di sekolah, dan bahkan tingkat pendaftaran kuliah yang lebih tinggi di usia 19–21 tahun (Barton et al., 2019, dikutip dalam Selman & Dilworth-Bart, 2024). Bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul di SMA, tapi hasil dari pola yang dibangun sejak jauh-jauh hari.

Rutinitas kecil yang orang tua bangun hari ini, di meja makan yang sama, di jam tidur yang konsisten, di rutinitas pagi yang berulang, itu investasi jangka panjang yang efeknya nggak langsung terlihat, tapi nyata, ada.

Catatan Penting

Review ini juga jujur soal batasannya. Rutinitas yang kaku, penuh tekanan, atau dipaksakan bisa jadi kontraproduktif. Efektivitas rutinitas akan works ketika kebutuhan dasar lain juga terpenuhi, termasuk tidur yang cukup dan kehadiran pengasuh yang responsif.

 

Yang anak butuhkan bukan jadwal yang ketat nan sempurna, tapi orang tua yang konsisten hadir. Karena rutinitas adalah bahasa yang dipahami otak anak jauh sebelum mereka bisa bicara, bahwa dunia ini aman karena ada kami, orang tua tempat kalian “pulang”

.


Selman, S. B., & Dilworth-Bart, J. E. (2024). Routines and child development: A systematic review. Journal of Family Theory & Review, 16(2), 272–328. https://doi.org/10.1111/jftr.12549


Tentang Penulis

Nuri Aprilia, M.Pd. adalah spesialis Pendidikan Anak Usia Dini, lulusan S2 terbaik Program Studi PAUD Universitas Negeri Yogyakarta (2025). Ia aktif sebagai team dan reviewer di Enlightening Parenting, content creator parenting berbasis riset, serta pembicara publik di berbagai sekolah dan institusi. Tesisnya berjudul Pengembangan Asesmen Berbasis Bermain untuk Melihat Perkembangan Sosial-Emosional Anak Usia Dini.

Instagram: @nuriiaprilia | Website: nuriaprilia.com

Tuesday, March 17, 2026

Dibalik Kata yang Bernama DUKA

 

"Dari banyaknya cara kehilangan, yang paling menyakitkan adalah ditinggalkan karena kematian… karena setelahnya, yang ada hanyalah rindu tanpa bisa bertemu lagi."

Beberapa hari yang lalu, saya diam beberapa detik membaca postingan Sheila Dara, beberapa hari setelah kepergian suaminya, Vidi. Postingan yang kemudian saya cari-cari lagi, tapi nihil.

Saat itu saya baca dua-tiga kali. Mata saya menerawang. Karena kalimat itu terlalu familiar.

Saat kehamilan pertama, setelah perjuangan panjang untuk bisa hamil, dokter dengan hati-hati menyampaikan bahwa janin dalam kandungan saya yang sudah beberapa bulan usianya, nggak lagi berkembang. Ya. Saya keguguran.

Nggak langsung nangis. Saya hanya diam. Bahkan sampai beberapa jam setelah proses kuretase.

Dan merelakan itu ternyata butuh waktu yang jauh lebih lama.

Belakangan saya tau, diam itu cara otak melindungi diri dari sesuatu yang terlalu besar untuk diproses sekaligus.

· · ·

Saat itu, seorang sahabat menyampaikan ke saya tentang tahapan untuk bisa legowo.

Elisabeth Kübler-Ross, psikiater asal Swiss, memperkenalkan 5 tahap duka. Ini bukan pakem urutan wajib. Bisa bolak-balik, bisa loncat dari satu tahap ke tahap lainnya, bisa juga hanya beberapa tahap aja yang dirasain. Nggak semua.

Denial

"Ini beneran? Janinku nggak berkembang? Meninggal?" Otak butuh waktu menyesuaikan diri dengan kenyataan yang tiba-tiba berubah. Makanya orang yang baru kehilangan, kadang masih refleks nglakuin kebiasaan-kebiasaan sebelumnya.

Kalau saya, saat itu refleks ngelus perut, ngrasa masih ada yang gerak-gerak, seolah masih ada "dia".

Anger

Marah sama keadaan, sama dokter, bahkan Allah swt. "Kenapa aku ya Allah?"

Ini bukan tanda lemah iman. Ini tanda pernah benar-benar ngerasa sayang. Cinta.

Bargaining

Berandai-andai. "Seandainya waktu itu aku sempet minta maaf… Seandainya aku cepet bawa ke dokter…"

Pikiran nyari-nyari kendali atas sesuatu yang nggak bisa dikendalikan.

Depression

Riset membuktikan duka memicu stres. Kortisol naik, imun melemah, tidur keganggu.

Acceptance

Bukan berarti udah prengas-prenges atau berhenti nggak inget-inget lagi, nggak kangen. Tapi, acceptance adalah tahap dimana mulai bisa hidup berdampingan dengan kehilangan itu.

Meaning (ditambahkan David Kessler)

Tahap berhasil menemukan makna. Makna dibalik kehilangan.

· · ·

RISET: LUNDORFF & BONANNO (2020)

Pada 857 orang yang kehilangan pasangan, penelitian menemukan bahwa mayoritas orang yang berduka punya pola resilient, ngrasa berat di awal, tapi dengan berjalannya waktu akhirnya bisa menerima.

Oiya, cara pria dan wanita berduka itu BEDA.

Pria ngrasain emosi berat di awal-awal berduka, lalu berjalannya waktu bisa cepat membaik.

Kalau wanita justru sebaliknya. Seiring berjalannya waktu, kadang emosinya justru meningkat. Bukan berarti nggak ikhlas. Bukan.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un bukan sekadar kalimat. Ini pengakuan bahwa setiap jiwa adalah titipan, dan semua adalah ketetapanNya.

Boleh sedih, boleh nangis nggak?
Boleh. Rasulullah ﷺ sendiri nangis saat putranya Ibrahim wafat.

Dan nangislah saya, saat bapak Hen memeluk, mengelus rambut setelah proses kuretase sambil membawanya dalam balutan kain putih. "Nangislah. Boleh. Take your time."

Ta'ziyah. Hadir, nemenin keluarga yang ditinggalkan. Bukan nasihat panjang. Bukan ceramah tentang ikhlas apalagi iman. Cukup hadir. Nemenin.

Hal ini sesuai dengan riset-riset yang ada, bahwa koneksi sosial adalah faktor paling nentuin dalam pemulihan duka.

· · ·

Karena saya juga pernah ada di tahap itu. Bertahun-tahun lamanya. Untuk paham bahwa Allah swt memang menyiapkan "itu" untuk dilalui dulu, agar saya bisa lebih "siap" hari ini.

Caption Sheila Dara mengingatkan saya pada "rindu" yang sama. Kalau sekarang ada yang masih berduka dan lelah bertanya-tanya kenapa…? 

Take your time.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."


رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ

"Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.."

Al-Fatihah……….


Yogyakarta, Maret 2026

https://www.instagram.com/nuriiaprilia/

Ada Ibu yang Bekerja Bukan Demi Eksistensi, Namun Kondisi

Menjadi ibu sekaligus pekerja adalah dua peran yang masing-masing mengandung hak dan kewajiban. Keduanya tidak selalu mulus berjalan beriringan. Di satu sisi ada tanggung jawab profesional yang tidak bisa diabaikan. Di sisi lain, ada anak, ada rumah, ada kebutuhan yang juga nyata dan mendesak. Ketegangan antara dua peran ini bukan sekadar soal waktu atau tenaga. Keduanya sama-sama penting, seolah pilihan itu tidak ada.

Salah satu momen paling berat yang sering dialami ibu bekerja adalah ketika anak jatuh sakit. Bukan sakit ringan yang cukup dengan obat dan istirahat, tapi sakit yang membutuhkan perawatan intensif dan kehadiran ibu jadi bagian penting dari penyembuhan itu. Namun kondisi pekerjaan tidak memungkinkan untuk izin meninggalkan. Bukan karena perusahaan tega (atau memang?), tapi kontrak kerja mengatakan demikian. Bagian dari akad yang ditandatangani dengan sadar.

Ada istilah psikologis untuk kondisi ini, disebut role conflict. Konflik yang muncul ketika tuntutan dari dua peran yang diemban saling bertabrakan dan tidak bisa dipenuhi secara bersamaan. Role conflict bersifat identity destroying. Ibu yang mengalaminya bukan tidak bertanggung jawab. Justru karena ia terlalu bertanggung jawab pada dua hal sekaligus, itulah yang membuatnya merasa sesak.

Ini juga yang disebut approach-avoidance conflict. Pergi kerja adalah pilihan yang menarik karena ada kewajiban dan kebutuhan finansial yang nyata (approach). Tapi pergi kerja juga menghadirkan perasaan bersalah, karena harus meninggalkan anak yang sedang butuh ibunya (avoidance). Avoidance conflict terbukti secara eksperimental lebih sulit diselesaikan dibanding jenis konflik lainnya.

Ingat materi handling baby di e-learning Enlightening Parenting? Di video tersebut saya menjelaskan salah satu penelitian yang dipublikasikan di neuropsychopharmacology, menggunakan fMRI, yang menunjukkan bahwa sinyal wajah bayi, baik yang sedang senyum maupun menangis, mengaktifkan dopamine-associated brain reward circuits, termasuk area ventral striatum dan hypothalamus/pituitary yang berkaitan dengan oksitosin. Artinya, ketika seorang ibu memaksakan diri berangkat kerja sementara anaknya sakit di rumah, tubuhnya secara neurologis sedang melawan dorongan yang sangat kuat untuk tetap tinggal menemani anak. Dan ternyata, produktif dalam kondisi seperti itu membutuhkan energi yang jauh lebih besar dari biasanya.

Yang memperumit lagi adalah cognitive labor, yaitu beban berpikir yang tidak kasat mata. Tubuhnya di kantor, tapi pikirannya di rumah. Sosiolog Allison Daminger dari Harvard, dalam penelitiannya di American Sociological Review tahun 2019, mendefinisikan cognitive labor sebagai proses anticipating needs, identifying options, making decisions,dan monitoring progress. Karena sifatnya yang melelahkan namun sering tidak terlihat, ia menjadi sumber konflik yang persisten. Cognitive labor ini terbukti lebih bias gender dibanding pekerjaan rumah tangga fisik. Ibu menanggung porsi yang jauh lebih besar, terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan anak.

Lalu harus bagaimana?

Pertama, kenali dan akui apa yang sedang dirasakan, tanpa menghakimi diri sendiri. Ini yang disebut self-compassion, yang terdiri dari tiga komponen: self-kindness (bersikap baik pada diri sendiri), common humanity (menyadari bahwa tantangan ini dialami oleh jutaan ibu lain), dan mindfulness (hadir dengan sadar tanpa larut berlebihan). Self-compassion terbukti berkorelasi dengan berkurangnya depresi dan rasa cemas, serta meningkatnya kepuasan hidup.

Kedua, prioritaskan secara strategis. Di sinilah peran manusia sebagai sebaik-baik ciptaan-Nya berfungsi, untuk berpikir dan berstrategi. Gunakan Eisenhower Matrix, bedakan mana tugas yang urgent & important yang harus ditangani sendiri, mana yang urgent but delegable yang bisa dikerjakan orang lain. Menemani anak adalah urgent and important, tapi tidak semua aspeknya harus dilakukan sendiri. Melibatkan pasangan, orang tua, atau orang yang dipercaya bukan berarti GAGAL sebagai ibu. Itu tanda ibu cukup bijak untuk tahu bahwa kapasitas manusia ada batasnya.

Ketiga, bangun support system sejak jauh-jauh hari. Dalam manajemen prioritas dikenal kuadran urgent but not important, yaitu tugas-tugas yang mendesak tapi sebenarnya bisa didelegasikan. Delegasikan sebelum krisis terjadi, saat anak masih baik-baik saja. Penelitian tentang maternal well-being konsisten menunjukkan bahwa dukungan sosial adalah salah satu buffer paling kuat terhadap stres pengasuhan. Kekuatan seorang ibu bukan diukur dari seberapa banyak yang ia tanggung sendirian, tapi dari seberapa bijak ia tahu kapan harus meminta tolong.

Dan satu hal terakhir yang paling penting untuk diingat.

Dinar yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu. (HR. Muslim)

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menegaskan bahwa nafkah kepada keluarga lebih afdhal dari sedekah sunnah mana pun. Maka setiap rupiah yang dihasilkan ibu bekerja, dengan niat ibadah untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok keluarga, akan menjadi sedekah terbaik dalam hidupnya. Dan Ia Maha Melihat lagi Maha Tahu setiap jengkal usaha, setiap bulir keringat, setiap konflik batin yang diupayakan diselesaikan, bahkan yang terasa tidak terlihat oleh siapa pun....


Yogyakarta, 17 Maret 2026

https://www.instagram.com/nuriiaprilia/