Oleh Nuri Aprilia, M.Pd.
Spesialis Pendidikan Anak Usia Dini | nuriaprilia.com
Tahun 2024, peneliti dari University of Wisconsin-Madison, Selman dan Dilworth-Bart, menerbitkan sebuah systematic review yang menelaah 170 studi dari tahun 1950 sampai 2020. Tujuh puluh tahun. Dan kesimpulannya satu. Apa itu?
“Rutinitas adalah sesuatu yang penting banget untuk tumbuh kembang anak.”
Ya kognitif. Ya regulasi diri. Ya keterampilan sosial-emosional. Prestasi akademik. Kesehatan fisik. Termasuk juga kesehatan mental. Hampir semua aspek tumbuh kembang anak ternyata punya hubungan dengan rutinitas yang konsisten di rumah.
Tiga Mekanisme
Selman & Dilworth-Bart (2024) merangkum bahwa rutinitas memengaruhi perkembangan anak melalui tiga mekanisme utama.
1. Struktur. Rutinitas kasih kerangka yang jelas buat otak anak untuk mengambil keputusan. Ketika anak tahu bahwa setelah makan ada sikat gigi, dan setelah sikat gigi ada tidur, otak nggak perlu lagi buang-buang energi untuk tebak-tebak buah manggis, apa yang terjadi selanjutnya ya?
2. Prediktabilitas. Ketika anak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, otaknya nggak perlu pakai energi untuk terus-menerus alert atau waspada. Alert atau waspada tadi memproduksi kortisol atau hormon stres. Dengan rutinitas yang jelas, kegiatan jadi terprediksi, maka kortisol turun. Anak jadi lebih tenang, lebih fokus, dan lebih siap belajar.
3. Konsistensi. Kegiatan yang berulang dengan pola yang sama secara pelan tapi pasti melatih anak untuk bisa mengatur pikiran, emosi, dan perilakunya sendiri. Inilah yang para peneliti sebut sebagai dasar self-regulation atau kemampuan yang kelak jadi salah satu kemampuan yang penting di sekolah dan dalam kehidupannya.
Otak anak kan masih berkembang. Maka, setiap kali rutinitas diulang, misalnya mandi dulu, lalu makan malam, lalu sikat gigi, kemudian tidur, maka otak akan membuat peta urutan yang makin jelas. Dan kalau petanya sudah jelas, energi yang tadinya habis untuk bertahan di tengah ketidakpastian aduh habis ini aku ngapain ya? bisa dialihkan ke hal yang jauh lebih penting, misalnya bermain, belajar, dan tumbuh.
Kortisol
DeCaro dan Worthman (2011), yang studinya dikutip dalam review Selman tadi juga mengukur kadar kortisol pada anak-anak yang transisi masuk kindergarten atau TK. Hasilnya adalah anak-anak yang rutinitas di rumahnya konsisten, ternyata kadar kortisolnya lebih rendah dan lebih stabil dari hari ke hari.
Jadi rutinitas yang konsisten itu bukan cuma “bagus secara psikologis” tapi efeknya juga terukur langsung di level biokimia tubuh anak. Ini relevan banget untuk momen pasca liburan panjang seperti setelah lebaran ini, di mana anak-anak baru saja melewati beberapa minggu tanpa jadwal yang teratur, plus paparan stimulasi sosial yang cukup tinggi dan perubahan-perubahan lain yang berbeda dibandingkan rutinitas hariannya.
Rutinitas = Rasa Aman
Waktu menulis tesis, salah satu teori yang saya jadikan landasan adalah Attachment Theorynya John Bowlby. Dan temuan dalam review ini nyambung banget sama teori tersebut.
Menurut Bowlby (1988), rutinitas harian seperti makan bersama, bermain, tidur di jam yang sama, ternyata mendorong terbentuknya kelekatan yang aman (secure attachment) antara anak dan pengasuhnya. Caranya? Ya lewat prediktabilitas dan keteraturan itu tadi.
Anak akan merasakan bahwa dunianya bisa dipercaya. Bahwa orang tuanya bisa diandalkan. Dan dari rasa aman itulah segalanya bisa tumbuh. Keberanian menjelajah, kemampuan belajar, kesiapan menghadapi hal baru.
Rutinitas bukan berarti menciptakan keluarga yang kaku dan serba ketat jadwalnya. Rutinitas yang efektif adalah yang hangat dan bisa diprediksi, yang memberi anak sinyal bahwa di rumah ini ada urutan yang bisa dipegang, ada orang tua yang konsisten hadir.
Sampai Remaja
“Kalau anaknya sudah besar, apa masih relevan?”
Review ini menemukan bahwa rutinitas yang dijalankan di usia 10–18 tahun ternyata masih berkaitan dengan pencapaian akademik yang lebih baik, keterlibatan lebih tinggi di sekolah, dan bahkan tingkat pendaftaran kuliah yang lebih tinggi di usia 19–21 tahun (Barton et al., 2019, dikutip dalam Selman & Dilworth-Bart, 2024). Bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul di SMA, tapi hasil dari pola yang dibangun sejak jauh-jauh hari.
Rutinitas kecil yang orang tua bangun hari ini, di meja makan yang sama, di jam tidur yang konsisten, di rutinitas pagi yang berulang, itu investasi jangka panjang yang efeknya nggak langsung terlihat, tapi nyata, ada.
Catatan Penting
Review ini juga jujur soal batasannya. Rutinitas yang kaku, penuh tekanan, atau dipaksakan bisa jadi kontraproduktif. Efektivitas rutinitas akan works ketika kebutuhan dasar lain juga terpenuhi, termasuk tidur yang cukup dan kehadiran pengasuh yang responsif.
Yang anak butuhkan bukan jadwal yang ketat nan sempurna, tapi orang tua yang konsisten hadir. Karena rutinitas adalah bahasa yang dipahami otak anak jauh sebelum mereka bisa bicara, bahwa dunia ini aman karena ada kami, orang tua tempat kalian “pulang”
.
Selman, S. B., & Dilworth-Bart, J. E. (2024). Routines and child development: A systematic review. Journal of Family Theory & Review, 16(2), 272–328. https://doi.org/10.1111/jftr.12549
Tentang Penulis
Nuri Aprilia, M.Pd. adalah spesialis Pendidikan Anak Usia Dini, lulusan S2 terbaik Program Studi PAUD Universitas Negeri Yogyakarta (2025). Ia aktif sebagai team dan reviewer di Enlightening Parenting, content creator parenting berbasis riset, serta pembicara publik di berbagai sekolah dan institusi. Tesisnya berjudul Pengembangan Asesmen Berbasis Bermain untuk Melihat Perkembangan Sosial-Emosional Anak Usia Dini.
Instagram: @nuriiaprilia | Website: nuriaprilia.com
No comments :
Post a Comment