SOCIAL MEDIA

Wednesday, August 5, 2026

Taukah Bapak/Ibu, Batas Usia Masuk SD, Berubah?

Taukah Bapak/Ibu, Batas Usia Masuk SD, Berubah?

Kebijakan & Perkembangan Anak

Taukah Bapak/Ibu, Batas Usia Masuk SD, Berubah?

Sebagai orang yang bertahun-tahun bergelut dengan dunia pendidikan anak usia dini, saya sering sekali ditanya, "kapan usia tepat anak untuk masuk jenjang SD?"

Jawabannya tidak sesederhana angka. Kesiapan anak masuk sekolah dasar adalah salah satu topik yang paling sering disalahpahami oleh masyarakat, disederhanakan menjadi soal tanggal lahir, padahal di baliknya ada rangkaian proses perkembangan yang jauh lebih kompleks, rumit dan personal untuk setiap anak.

Pemerintah tampaknya ikut menyadari hal ini. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 3 Tahun 2025 tentang Sistem Penerimaan Murid Baru, aturan usia masuk SD ditata ulang. Dalam Pasal 11, usia tujuh tahun pada tanggal 1 Juli tahun berjalan tetap ditempatkan sebagai prioritas utama penerimaan, namun kata kuncinya adalah prioritas, bukan syarat mutlak. Anak yang baru genap enam tahun pada tanggal yang sama tetap boleh mendaftar dan mengisi sisa kuota yang tersedia. Bahkan ada ruang lebih jauh lagi, anak yang usianya baru lima tahun enam bulan pun dapat diterima, asalkan menunjukkan kecerdasan atau bakat istimewa serta kesiapan psikis, yang dibuktikan dengan rekomendasi tertulis dari psikolog profesional atau, jika psikolog tidak tersedia di daerah tersebut, dari dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan. Dua ketentuan lain menyertainya, calon murid kelas satu SD tidak boleh dikenai tes membaca, menulis, dan berhitung sebagai syarat seleksi, dan anak juga tidak diwajibkan memiliki ijazah TK untuk bisa mendaftar.

Apakah rentang usia enam sampai tujuh tahun ini memang selaras dengan apa yang dikatakan ilmu perkembangan anak, dan lebih jauh lagi, apakah pelonggaran gerbang masuk ini benar-benar bisa disebut kabar baik? Untuk menjawab pertanyaan pertama, mari kita telusuri dulu beberapa theory yang selama ini menjadi rujukan utama dalam memahami tumbuh kembang anak, sebelum saya sampaikan mengapa jawaban atas pertanyaan kedua ternyata jauh lebih rumit.

Teori Perkembangan Anak

Jean Piaget adalah tempat paling wajar untuk memulai, karena Piagetlah yang pertama kali memetakan perkembangan kognitif anak ke dalam empat tahap yang berurutan. Transisi dari tahap praoperasional menuju tahap operasional konkret secara umum memang terjadi di sekitar usia enam sampai tujuh tahun. Pada tahap operasional konkret inilah anak mulai memiliki kemampuan konservasi, memahami bahwa jumlah air tetap sama meski dipindahkan ke gelas yang bentuknya berbeda, kemampuan reversibilitas atau berpikir mundur, dan mulai bisa berpikir logis terhadap objek konkret meski belum sepenuhnya abstrak. Inilah dasar ilmiah kenapa usia tujuh tahun secara historis dipilih sebagai patokan masuk SD di banyak negara, karena kurikulum kelas satu menuntut anak mampu mengikuti instruksi berurutan, memahami sebab akibat, dan mengelola simbol seperti angka dan huruf secara sistematis, semuanya bertumpu pada kematangan operasional konkret ini. Tapi Piaget sendiri, sebenarnya tidak pernah bermaksud menjadikan angka usia sebagai patokan kaku. Tahapan ini adalah urutan perkembangan yang kecepatannya dipengaruhi oleh stimulasi lingkungan dan pengalaman individual anak, bukan jadwal biologis yang berjalan sama untuk semua orang.

Di titik inilah Lev Vygotsky melengkapi gambaran yang ditinggalkan Piaget. Kalau Piaget melihat perkembangan sebagai proses yang tumbuh dari dalam diri anak, Vygotsky menambahkan dimensi sosial lewat konsep zona perkembangan proksimal, yaitu jarak antara apa yang bisa dilakukan anak sendirian dan apa yang bisa dilakukan dengan bantuan orang dewasa atau teman yang lebih mampu. Dalam kerangka ini, kesiapan sekolah bukan semata soal anak sudah sampai di titik tertentu secara mandiri, melainkan soal seberapa besar dukungan di sekitarnya, baik sebelum masuk SD maupun setelah ia berada di dalam kelas. Ini poin yang nanti akan kembali penting saat kita bicara soal apa yang terjadi begitu anak benar-benar duduk di bangku kelas satu.

Erik Erikson menambahkan dimensi psikososial yang menurut saya justru paling sering terlewat dalam diskusi publik. Erikson menempatkan anak usia sekolah dasar, kira-kira usia lima sampai dua belas tahun, dalam tahap industry vs inferiority, saat anak mulai membangun rasa kompeten lewat penyelesaian tugas dan perbandingan dengan teman sebaya. Sebelum itu, usia tiga sampai enam tahun berada di tahap initiative vs guilt, saat anak belajar mengambil inisiatif lewat bermain dan eksplorasi bebas. Kalau anak dimasukkan ke SD terlalu dini sebelum benar-benar menuntaskan tahap initiative versus guilt, anak berisiko dihadapkan pada berbagai tuntutan dan evaluasi sosial, padahal fondasi rasa percaya dirinya dalam berinisiatif dan bereksplorasi belum cukup matang.

Riset yang lebih kontemporer menambahkan satu bagian penting lagi, yaitu fungsi eksekutif. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan fungsi eksekutif, mencakup kontrol diri, working memory atau memori kerja yaitu kemampuan anak menyimpan dan mengolah informasi dalam waktu singkat sambil tetap fokus mengerjakan sesuatu, dan fleksibilitas kognitif, justru menjadi prediktor keberhasilan sekolah yang lebih kuat dibanding usia kronologis atau bahkan kemampuan akademik dini semacam calistung. Anak yang bisa duduk tenang, menunggu giliran, mengalihkan perhatian sesuai instruksi, dan mengelola frustrasi, cenderung jauh lebih berhasil beradaptasi di kelas satu dibanding anak yang sudah lancar membaca dan berhitung tapi belum bisa mengatur dirinya sendiri.

Kalau kita menariknya ke kerangka yang lebih menyeluruh, seperti model kesiapan sekolah yang dikembangkan lembaga semacam NAEYC(National Association for the Education of Young Children, organisasi rujukan dunia untuk standar pendidikan anak usia dini), kesiapan anak masuk SD sebenarnya mencakup setidaknya lima domain yang saling berkaitan erat, yaitu perkembangan fisik dan motorik, perkembangan sosial emosional, pendekatan terhadap belajar seperti rasa ingin tahu dan ketekunan, perkembangan bahasa, serta kognisi umum. Dan di sinilah poin yang menurut saya paling sering luput dari perhatian publik, NAEYC sendiri mendefinisikan anak usia dini sebagai rentang sejak lahir sampai delapan tahun, yang berarti anak kelas satu dan kelas dua SD, secara definisi, masih tergolong anak usia dini. Mereka belum semestinya diperlakukan sebagai pelajar akademik penuh yang hanya duduk manis mendengarkan dan menulis, melainkan masih membutuhkan ruang bermain, eksplorasi, dan gerak sebagai bagian dari cara mereka belajar.

Kesenjangan

Nah, di sinilah ada kesenjangan yang menurut saya justru lebih penting untuk dibahas dibanding sekadar soal angka usia masuk. Kalau definisi dari NAEYC menyatakan anak sampai usia delapan tahun masih tergolong usia dini, semestinya SD kelas satu dan kelas dua dirancang sebagai kelanjutan dari pendekatan bermain yang menyenangkan, bukan lompatan seratus delapan puluh derajat menuju sistem duduk di bangku, mendengarkan ceramah guru, dan mengerjakan lembar kerja. Namun kenyataan di lapangan sering kali berkata lain. Buku paket kelas satu SD, tidak jarang sudah berisi cerita panjang yang menuntut kefasihan membaca sejak halaman pertama, seolah semua anak yang masuk kelas satu sudah bisa membaca lancar. Padahal, secara regulasi, anak sama sekali tidak diwajibkan bisa membaca saat mendaftar, bahkan dilarang dites soal itu.

Kontradiksi ini pada akhirnya melahirkan gejala yang cukup aneh kalau ditelusuri logikanya, yaitu fenomena guru yang membacakan bagi anak yang belum lancar baca tulis. Kalau dipikir baik-baik, praktik ini sebenarnya adalah tambal sulam, bukan solusi sistemik. Hal ini menunjukkan sistem sadar bahwa ada anak yang belum siap secara literasi, tapi responsnya cuma penyesuaian darurat saja, apalagi saat ujian, sementara sepanjang semester anak tetap dihadapkan pada buku teks yang sama yang menuntut kemampuan membaca yang belum tentu anak miliki. Anak yang berjuang mengikuti pelajaran setiap hari, sesungguhnya sedang mengalami ketimpangan antara apa yang dijanjikan kebijakan dan apa yang sungguh-sungguh terjadi di kelas.

Kalau memakai kerangka ekologi perkembangan dari Urie Bronfenbrenner, apa yang terjadi di sini adalah transisi mesosistem yang terlalu tajam antara dua lingkungan mikrosistem yang berbeda total, PAUD yang berbasis bermain dan SD yang berbasis duduk dan literasi formal, tanpa jembatan penyangga yang memadai di tengahnya. Teori ekologis maupun konsep zona perkembangan proksimal dari Vygotsky yang sudah saya singgung sebelumnya sama-sama menekankan bahwa perubahan lingkungan belajar yang mendadak, tanpa scaffolding yang cukup, berisiko menimbulkan stres adaptif pada anak, bukan hanya bagi anak yang usianya lebih muda dari tujuh tahun, tapi berpotensi bagi semua anak kelas satu, siapa pun usianya, selama kurikulum dan buku ajarnya tidak dirancang ulang untuk mengakomodasi transisi ini.

Respons Pemerintah

Yang menarik, ternyata pemerintah sendiri sesungguhnya sudah pernah mendiagnosis persis masalah ini, jauh sebelum Permendikdasmen 3 Tahun 2025 terbit. Sejak Maret 2023, lewat Merdeka Belajar Episode ke-24, Kemendikbudristek di era Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A meluncurkan gerakan bernama Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan, dengan payung hukum Surat Edaran Nomor 0759/C/HK.04.01/2023. Gerakan ini punya tiga target, menghapus tes calistung, menerapkan masa perkenalan dua minggu di awal tahun ajaran, dan membangun enam kemampuan fondasi anak yang mencakup nilai agama dan budi pekerti, keterampilan sosial dan bahasa, kematangan emosi, kematangan kognitif, keterampilan motorik dan perawatan diri, serta pemaknaan positif terhadap belajar. Dokumen resminya bahkan menyebutkan bahwa keenam kemampuan fondasi ini perlu dibangun secara kontinu dari PAUD hingga kelas dua SD, sebuah pengakuan implisit bahwa rentang usia dini yang dimaksud NAEYC memang selaras dengan apa yang seharusnya dipahami sistem pendidikan kita sendiri.

Setelah kementerian dipecah dan berganti nama menjadi Kemendikdasmen di bawah Prof. Dr. H. Abdul Mu'ti, M.Ed, gerakan ini ternyata tidak dihapus, justru terus disosialisasikan ulang, termasuk lewat kegiatan penguatan implementasi ke 514 dinas pendidikan kabupaten dan kota. Dan yang paling menarik untuk dicatat, kini gerakan ini dan Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025 mulai dibingkai sebagai satu paket kebijakan lewat jargon SPMB Ramah 2026/2027, yang menggabungkan larangan calistung dan syarat usia fleksibel dari Permendikdasmen di satu sisi, dengan semangat transisi menyenangkan dari gerakan Merdeka Belajar di sisi lain. Secara branding kebijakan, ini menunjukkan pemerintah sendiri sudah menyadari bahwa dua hal ini seharusnya berjalan beriringan, bukan berdiri sendiri-sendiri seperti yang mungkin terlihat kalau kita hanya membaca Permendikdasmennya saja.

Namun di sinilah saya ingin kita jeda sejenak dan tidak buru-buru merayakannya sebagai penyelesaian. Gerakan Transisi PAUD ke SD yang menyenangkan, meski usianya sudah lebih dari tiga tahun dan terus dikuatkan lintas kementerian, tetap berbentuk surat edaran dan kampanye sosialisasi, bukan regulasi yang mengikat penyusunan kurikulum atau penerbitan buku ajar secara hukum. Laporan pelaksanaan dari daerah pun secara jujur mencatat hambatan yang nyata, misalnya masih ada perbedaan pemahaman di kalangan guru senior SD soal pendekatan belajar sambil bermain, dan solusinya pun baru sebatas edukasi persuasif kepada orang tua dan guru, bukan perombakan struktural pada bahan ajar itu sendiri. Artinya, meski secara semangat kebijakan kedua hal ini sudah dibingkai satu paket, secara kekuatan hukum keduanya masih timpang, satu mengikat lewat peraturan menteri yang tegas mengatur syarat usia, satu lagi hanya mengimbau lewat surat edaran yang bergantung pada kesadaran dan kapasitas masing-masing satuan pendidikan untuk menjalankannya.

Lalu Gimana?

Kalau saya boleh menyampaikan setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia pendidikan anak usia dini, saya lebih condong pada usia tujuh tahun plus sebagai titik masuk yang lebih aman, justru dengan mempertimbangkan seluruh lapisan teori yang sudah kita bahas di atas. Rentang usia itu memberi anak waktu lebih panjang untuk menuntaskan tahap initiative vs guilt secara utuh, membangun fungsi eksekutif yang lebih matang, dan menyerap kemampuan-kemampuan dasar secara lebih menyeluruh sebelum dihadapkan pada sistem SD yang, jujur saja, belum benar-benar dirancang untuk menyambut keberagaman kesiapan anak. Tentu jawaban ini sangat subjektif, sangat bergantung pada riwayat stimulasi anak, kematangan individualnya, dan seperti apa SD yang dituju. Kalau SD tersebut sudah menjalankan enam kemampuan fondasi secara konsisten, punya guru kelas awal yang terlatih pendekatan bermain, dan tidak buru-buru menuntut literasi formal, maka usia enam tahun bahkan lima setengah tahun bisa jadi bukan masalah sama sekali. Tapi kalau yang dituju adalah SD dengan buku paket yang sudah berisi cerita panjang sejak kelas satu dan tanpa masa transisi yang benar-benar dijalankan, maka kelonggaran usia semata justru berisiko memindahkan seluruh beban adaptasi itu ke pundak anak dan keluarganya sendirian.

Di sinilah menurut saya letak kesenjangan yang sesungguhnya, bukan pada niat melonggarkan usia masuk, yang secara teori perkembangan sebenarnya punya dasar yang kuat dan selaras dengan pemahaman bahwa kesiapan itu variatif dan individual. Kesenjangan ada pada asimetri arah reformasinya. Kebijakan membebankan penyesuaian ke sisi anak dan keluarga lewat pelonggaran usia serta syarat rekomendasi psikolog bagi yang lebih muda, tapi belum membebankan penyesuaian yang setara ke sisi sekolah, lewat kewajiban mengikat untuk merombak buku ajar kelas awal, melatih ulang guru kelas satu dan dua secara masif dan merata, atau mengubah struktur jam belajar agar benar-benar menyisakan ruang bermain terstruktur sepanjang kelas satu dan kelas dua, sebagaimana semestinya jika kita sungguh sungguh menempatkan anak usia tersebut sebagai anak usia dini seperti definisi NAEYC.

Ada nilai yang menurut saya sangat selaras dengan semangat ilmiah di balik semua ini, bahwa setiap anak dititipkan dengan fitrah belajar hingga piawai seperti yang disebutkan dalam Enlightening Parenting dan ritme perkembangannya masing masing, dan tugas orang tua serta pendidik bukan menyeragamkan mereka ke dalam satu cetakan, melainkan mengenali dan menuntun sesuai kesiapan yang sesungguhnya. Tapi menghormati fitrah itu semestinya tidak berhenti pada kebijakan yang melonggarkan pintu masuk saja. Tapi juga menuntut kita membangun ekosistem penyambut yang layak, ruang kelas yang masih menyisakan waktu bermain, buku ajar yang bertahap, dan guru yang dilatih memahami bahwa anak tujuh tahun pun, apalagi enam tahun, masih dalam proses menjadi, bukan sudah jadi.

Selama tidak dibarengi reformasi setara di sisi kurikulum, buku ajar, dan kesiapan guru kelas awal, maka pertanyaan usia berapa sebaiknya anak masuk SD akan selalu kembali ke jawaban yang sama, tergantung anaknya, tergantung riwayat stimulasinya, dan tergantung sekolah macam apa yang menyambutnya. Semoga suatu hari nanti, pertanyaan itu tidak lagi perlu bergantung sepenuhnya pada keberuntungan orang tua menemukan sekolah yang tepat, melainkan karena setiap SD, tanpa kecuali, sudah siap menyambut anak sebagaimana adanya, dengan seluruh dirinya, bukan hanya dengan kemampuan membaca dan berhitungnya.

Ditulis oleh Nuri Aprilia, S.Pi., M.Pd | Early Childhood Education Specialist & Program Advisor

Friday, July 17, 2026

TKA dan Privilese yang Tak Pernah Disebut dalam Kebijakan Pendidikan

Liburan sekolah kemarin, obrolan orang tua murid kelas 6 SD nyaris tidak lepas dari satu topik, bimbel mana yang paling ampuh mempersiapkan anak menghadapi Tes Kemampuan Akademik atau TKA, sebagian bahkan sampai waiting list. Begitu tahu biayanya, in this economy, angka segitu buat kami ya cukup pricey, bahkan ada yang biaya bulanannya melebihi SPP sekolah anak sendiri. Di Threads, cerita serupa bertebaran, orang tua membagikan pengalaman anaknya yang baru melalui TKA tahun lalu. Sebagian anak sudah didrill sejak kelas 4, dibantu guru privat dua kali seminggu per mata pelajaran, ditambah bimbel di luar rumah. Membaca dan mendengar semua itu, saya jadi terus terbayang anak-anak lain yang sebenarnya sama-sama butuh persiapan serupa, tapi kondisi keluarganya tidak memungkinkan untuk mengambil bimbel sama sekali. Bagi keluarga berpenghasilan pas-pasan, apalagi yang bekerja harian sekadar menyambung hidup, pilihan itu bahkan tidak pernah masuk hitungan, bukan karena tidak ingin, tapi karena memang tidak terjangkau.

Jawaban yang sering muncul untuk menjembatani kesenjangan ini cenderung klise, asalkan anak rajin belajar sendiri, peluang tetap terbuka. Pertanyaannya, cukupkah modal itu saja? Dalam banyak kasus, jawabannya seringkali tidak cukup, dan kerangka Pierre Bourdieu tentang modal budaya dan modal ekonomi menjelaskan dengan tepat mengapa. Keberhasilan akademik seorang anak, menurut Bourdieu, bukan semata hasil bakat atau kerja kerasnya sendiri, melainkan juga hasil dari modal yang diwariskan keluarganya, uang untuk membayar les, buku dan alat belajar di rumah, kebiasaan berbahasa yang sejak kecil sudah dekat dengan dunia sekolah. Anak dengan modal ini lebih mudah mengonversi usahanya menjadi nilai tinggi, sementara anak tanpa modal itu harus berusaha jauh lebih keras hanya untuk sampai di titik yang sama. Kesenjangan ini pun bukan barang baru yang muncul di kelas 6 SD, ia sudah terbentuk sejak tahun-tahun awal kehidupan anak, sebagaimana dijelaskan teori ekologi perkembangan Urie Bronfenbrenner, salah satu kerangka yang juga saya dalami saat menyusun tesis pendidikan anak usia dini.

Karena TKA jenjang SD berfokus pada membaca dan matematika, tes ini sebetulnya sedang mengukur fondasi yang sudah terbentuk sejak usia dini. Di sinilah efek Matthew, istilah yang dipopulerkan psikolog Keith Stanovich untuk menjelaskan pola dalam perkembangan literasi anak, menjadi relevan, anak dengan fondasi membaca kuat akan semakin sering membaca dan semakin terasah kemampuannya, sementara anak yang fondasinya lemah cenderung menghindar dan jaraknya dengan teman sebaya melebar seiring waktu. Anak yang tampak lebih siap menghadapi TKA bukan berarti lebih pintar secara alami, ia hanya lebih lama diberi kesempatan untuk berkembang, sebuah pola yang juga sejalan dengan temuan klasik Coleman bahwa latar belakang keluarga adalah prediktor capaian akademik yang jauh lebih kuat dibandingkan fasilitas sekolah.

Niat menghadirkan alat ukur yang lebih objektif tentu patut diapresiasi, tapi objektif bagi tes tidak otomatis berarti adil bagi semua anak yang mengerjakannya, sebab menyediakan tes yang sama untuk semua anak bukan berarti memberi kesempatan yang sama, terlebih jika hasil tes itu ikut menentukan jalur masuk sekolah favorit. Yang perlu dipertanyakan bukan tesnya, melainkan cara kita memaknai keadilan dalam kebijakan ini. Keadilan yang sesungguhnya membutuhkan pengakuan bahwa anak-anak berangkat dari titik start yang berbeda, dan kebijakan publik semestinya hadir untuk menjembataninya.

Friday, March 27, 2026

Kenapa Rutinitas untuk Anak Itu Penting?

 


Oleh Nuri Aprilia, M.Pd.

Spesialis Pendidikan Anak Usia Dini | nuriaprilia.com

Tahun 2024, peneliti dari University of Wisconsin-Madison, Selman dan Dilworth-Bart, menerbitkan sebuah systematic review yang menelaah 170 studi dari tahun 1950 sampai 2020. Tujuh puluh tahun. Dan kesimpulannya satu. Apa itu?

“Rutinitas adalah sesuatu yang penting banget untuk tumbuh kembang anak.”

Ya kognitif. Ya regulasi diri. Ya keterampilan sosial-emosional. Prestasi akademik. Kesehatan fisik. Termasuk juga kesehatan mental. Hampir semua aspek tumbuh kembang anak ternyata punya hubungan dengan rutinitas yang konsisten di rumah.

Tiga Mekanisme

Selman & Dilworth-Bart (2024) merangkum bahwa rutinitas memengaruhi perkembangan anak melalui tiga mekanisme utama.

1.  Struktur. Rutinitas kasih kerangka yang jelas buat otak anak untuk mengambil keputusan. Ketika anak tahu bahwa setelah makan ada sikat gigi, dan setelah sikat gigi ada tidur, otak nggak perlu lagi buang-buang energi untuk tebak-tebak buah manggis, apa yang terjadi selanjutnya ya?

2.  Prediktabilitas. Ketika anak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, otaknya nggak perlu pakai energi untuk terus-menerus alert atau waspada. Alert atau waspada tadi memproduksi kortisol atau hormon stres. Dengan rutinitas yang jelas, kegiatan jadi terprediksi, maka kortisol turun. Anak jadi lebih tenang, lebih fokus, dan lebih siap belajar.

3.   Konsistensi. Kegiatan yang berulang dengan pola yang sama secara pelan tapi pasti melatih anak untuk bisa mengatur pikiran, emosi, dan perilakunya sendiri. Inilah yang para peneliti sebut sebagai dasar self-regulation atau kemampuan yang kelak jadi salah satu kemampuan yang penting di sekolah dan dalam kehidupannya.

Otak anak kan masih berkembang. Maka, setiap kali rutinitas diulang, misalnya mandi dulu, lalu makan malam, lalu sikat gigi, kemudian tidur, maka otak akan membuat peta urutan yang makin jelas. Dan kalau petanya sudah jelas, energi yang tadinya habis untuk bertahan di tengah ketidakpastian aduh habis ini aku ngapain ya? bisa dialihkan ke hal yang jauh lebih penting, misalnya bermain, belajar, dan tumbuh.

Kortisol

DeCaro dan Worthman (2011), yang studinya dikutip dalam review Selman tadi juga mengukur kadar kortisol pada anak-anak yang transisi masuk kindergarten atau TK. Hasilnya adalah anak-anak yang rutinitas di rumahnya konsisten, ternyata kadar kortisolnya lebih rendah dan lebih stabil dari hari ke hari.

Jadi rutinitas yang konsisten itu bukan cuma “bagus secara psikologis” tapi efeknya juga terukur langsung di level biokimia tubuh anak. Ini relevan banget untuk momen pasca liburan panjang seperti setelah lebaran ini, di mana anak-anak baru saja melewati beberapa minggu tanpa jadwal yang teratur, plus paparan stimulasi sosial yang cukup tinggi dan perubahan-perubahan lain yang berbeda dibandingkan rutinitas hariannya.

Rutinitas = Rasa Aman

Waktu menulis tesis, salah satu teori yang saya jadikan landasan adalah Attachment Theorynya John Bowlby. Dan temuan dalam review ini nyambung banget sama teori tersebut.

Menurut Bowlby (1988), rutinitas harian seperti makan bersama, bermain, tidur di jam yang sama, ternyata mendorong terbentuknya kelekatan yang aman (secure attachment) antara anak dan pengasuhnya. Caranya? Ya lewat prediktabilitas dan keteraturan itu tadi.

Anak akan merasakan bahwa dunianya bisa dipercaya. Bahwa orang tuanya bisa diandalkan. Dan dari rasa aman itulah segalanya bisa tumbuh. Keberanian menjelajah, kemampuan belajar, kesiapan menghadapi hal baru.

Rutinitas bukan berarti menciptakan keluarga yang kaku dan serba ketat jadwalnya. Rutinitas yang efektif adalah yang hangat dan bisa diprediksi, yang memberi anak sinyal bahwa di rumah ini ada urutan yang bisa dipegang, ada orang tua yang konsisten hadir.

Sampai Remaja

“Kalau anaknya sudah besar, apa masih relevan?”

Review ini menemukan bahwa rutinitas yang dijalankan di usia 10–18 tahun ternyata masih berkaitan dengan pencapaian akademik yang lebih baik, keterlibatan lebih tinggi di sekolah, dan bahkan tingkat pendaftaran kuliah yang lebih tinggi di usia 19–21 tahun (Barton et al., 2019, dikutip dalam Selman & Dilworth-Bart, 2024). Bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul di SMA, tapi hasil dari pola yang dibangun sejak jauh-jauh hari.

Rutinitas kecil yang orang tua bangun hari ini, di meja makan yang sama, di jam tidur yang konsisten, di rutinitas pagi yang berulang, itu investasi jangka panjang yang efeknya nggak langsung terlihat, tapi nyata, ada.

Catatan Penting

Review ini juga jujur soal batasannya. Rutinitas yang kaku, penuh tekanan, atau dipaksakan bisa jadi kontraproduktif. Efektivitas rutinitas akan works ketika kebutuhan dasar lain juga terpenuhi, termasuk tidur yang cukup dan kehadiran pengasuh yang responsif.

 

Yang anak butuhkan bukan jadwal yang ketat nan sempurna, tapi orang tua yang konsisten hadir. Karena rutinitas adalah bahasa yang dipahami otak anak jauh sebelum mereka bisa bicara, bahwa dunia ini aman karena ada kami, orang tua tempat kalian “pulang”

.


Selman, S. B., & Dilworth-Bart, J. E. (2024). Routines and child development: A systematic review. Journal of Family Theory & Review, 16(2), 272–328. https://doi.org/10.1111/jftr.12549


Tentang Penulis

Nuri Aprilia, M.Pd. adalah spesialis Pendidikan Anak Usia Dini, lulusan S2 terbaik Program Studi PAUD Universitas Negeri Yogyakarta (2025). Ia aktif sebagai team dan reviewer di Enlightening Parenting, content creator parenting berbasis riset, serta pembicara publik di berbagai sekolah dan institusi. Tesisnya berjudul Pengembangan Asesmen Berbasis Bermain untuk Melihat Perkembangan Sosial-Emosional Anak Usia Dini.

Instagram: @nuriiaprilia | Website: nuriaprilia.com

Tuesday, March 17, 2026

Dibalik Kata yang Bernama DUKA

 

"Dari banyaknya cara kehilangan, yang paling menyakitkan adalah ditinggalkan karena kematian… karena setelahnya, yang ada hanyalah rindu tanpa bisa bertemu lagi."

Beberapa hari yang lalu, saya diam beberapa detik membaca postingan Sheila Dara, beberapa hari setelah kepergian suaminya, Vidi. Postingan yang kemudian saya cari-cari lagi, tapi nihil.

Saat itu saya baca dua-tiga kali. Mata saya menerawang. Karena kalimat itu terlalu familiar.

Saat kehamilan pertama, setelah perjuangan panjang untuk bisa hamil, dokter dengan hati-hati menyampaikan bahwa janin dalam kandungan saya yang sudah beberapa bulan usianya, nggak lagi berkembang. Ya. Saya keguguran.

Nggak langsung nangis. Saya hanya diam. Bahkan sampai beberapa jam setelah proses kuretase.

Dan merelakan itu ternyata butuh waktu yang jauh lebih lama.

Belakangan saya tau, diam itu cara otak melindungi diri dari sesuatu yang terlalu besar untuk diproses sekaligus.

· · ·

Saat itu, seorang sahabat menyampaikan ke saya tentang tahapan untuk bisa legowo.

Elisabeth Kübler-Ross, psikiater asal Swiss, memperkenalkan 5 tahap duka. Ini bukan pakem urutan wajib. Bisa bolak-balik, bisa loncat dari satu tahap ke tahap lainnya, bisa juga hanya beberapa tahap aja yang dirasain. Nggak semua.

Denial

"Ini beneran? Janinku nggak berkembang? Meninggal?" Otak butuh waktu menyesuaikan diri dengan kenyataan yang tiba-tiba berubah. Makanya orang yang baru kehilangan, kadang masih refleks nglakuin kebiasaan-kebiasaan sebelumnya.

Kalau saya, saat itu refleks ngelus perut, ngrasa masih ada yang gerak-gerak, seolah masih ada "dia".

Anger

Marah sama keadaan, sama dokter, bahkan Allah swt. "Kenapa aku ya Allah?"

Ini bukan tanda lemah iman. Ini tanda pernah benar-benar ngerasa sayang. Cinta.

Bargaining

Berandai-andai. "Seandainya waktu itu aku sempet minta maaf… Seandainya aku cepet bawa ke dokter…"

Pikiran nyari-nyari kendali atas sesuatu yang nggak bisa dikendalikan.

Depression

Riset membuktikan duka memicu stres. Kortisol naik, imun melemah, tidur keganggu.

Acceptance

Bukan berarti udah prengas-prenges atau berhenti nggak inget-inget lagi, nggak kangen. Tapi, acceptance adalah tahap dimana mulai bisa hidup berdampingan dengan kehilangan itu.

Meaning (ditambahkan David Kessler)

Tahap berhasil menemukan makna. Makna dibalik kehilangan.

· · ·

RISET: LUNDORFF & BONANNO (2020)

Pada 857 orang yang kehilangan pasangan, penelitian menemukan bahwa mayoritas orang yang berduka punya pola resilient, ngrasa berat di awal, tapi dengan berjalannya waktu akhirnya bisa menerima.

Oiya, cara pria dan wanita berduka itu BEDA.

Pria ngrasain emosi berat di awal-awal berduka, lalu berjalannya waktu bisa cepat membaik.

Kalau wanita justru sebaliknya. Seiring berjalannya waktu, kadang emosinya justru meningkat. Bukan berarti nggak ikhlas. Bukan.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un bukan sekadar kalimat. Ini pengakuan bahwa setiap jiwa adalah titipan, dan semua adalah ketetapanNya.

Boleh sedih, boleh nangis nggak?
Boleh. Rasulullah ﷺ sendiri nangis saat putranya Ibrahim wafat.

Dan nangislah saya, saat bapak Hen memeluk, mengelus rambut setelah proses kuretase sambil membawanya dalam balutan kain putih. "Nangislah. Boleh. Take your time."

Ta'ziyah. Hadir, nemenin keluarga yang ditinggalkan. Bukan nasihat panjang. Bukan ceramah tentang ikhlas apalagi iman. Cukup hadir. Nemenin.

Hal ini sesuai dengan riset-riset yang ada, bahwa koneksi sosial adalah faktor paling nentuin dalam pemulihan duka.

· · ·

Karena saya juga pernah ada di tahap itu. Bertahun-tahun lamanya. Untuk paham bahwa Allah swt memang menyiapkan "itu" untuk dilalui dulu, agar saya bisa lebih "siap" hari ini.

Caption Sheila Dara mengingatkan saya pada "rindu" yang sama. Kalau sekarang ada yang masih berduka dan lelah bertanya-tanya kenapa…? 

Take your time.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."


رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ

"Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.."

Al-Fatihah……….


Yogyakarta, Maret 2026

https://www.instagram.com/nuriiaprilia/

Ada Ibu yang Bekerja Bukan Demi Eksistensi, Namun Kondisi

Menjadi ibu sekaligus pekerja adalah dua peran yang masing-masing mengandung hak dan kewajiban. Keduanya tidak selalu mulus berjalan beriringan. Di satu sisi ada tanggung jawab profesional yang tidak bisa diabaikan. Di sisi lain, ada anak, ada rumah, ada kebutuhan yang juga nyata dan mendesak. Ketegangan antara dua peran ini bukan sekadar soal waktu atau tenaga. Keduanya sama-sama penting, seolah pilihan itu tidak ada.

Salah satu momen paling berat yang sering dialami ibu bekerja adalah ketika anak jatuh sakit. Bukan sakit ringan yang cukup dengan obat dan istirahat, tapi sakit yang membutuhkan perawatan intensif dan kehadiran ibu jadi bagian penting dari penyembuhan itu. Namun kondisi pekerjaan tidak memungkinkan untuk izin meninggalkan. Bukan karena perusahaan tega (atau memang?), tapi kontrak kerja mengatakan demikian. Bagian dari akad yang ditandatangani dengan sadar.

Ada istilah psikologis untuk kondisi ini, disebut role conflict. Konflik yang muncul ketika tuntutan dari dua peran yang diemban saling bertabrakan dan tidak bisa dipenuhi secara bersamaan. Role conflict bersifat identity destroying. Ibu yang mengalaminya bukan tidak bertanggung jawab. Justru karena ia terlalu bertanggung jawab pada dua hal sekaligus, itulah yang membuatnya merasa sesak.

Ini juga yang disebut approach-avoidance conflict. Pergi kerja adalah pilihan yang menarik karena ada kewajiban dan kebutuhan finansial yang nyata (approach). Tapi pergi kerja juga menghadirkan perasaan bersalah, karena harus meninggalkan anak yang sedang butuh ibunya (avoidance). Avoidance conflict terbukti secara eksperimental lebih sulit diselesaikan dibanding jenis konflik lainnya.

Ingat materi handling baby di e-learning Enlightening Parenting? Di video tersebut saya menjelaskan salah satu penelitian yang dipublikasikan di neuropsychopharmacology, menggunakan fMRI, yang menunjukkan bahwa sinyal wajah bayi, baik yang sedang senyum maupun menangis, mengaktifkan dopamine-associated brain reward circuits, termasuk area ventral striatum dan hypothalamus/pituitary yang berkaitan dengan oksitosin. Artinya, ketika seorang ibu memaksakan diri berangkat kerja sementara anaknya sakit di rumah, tubuhnya secara neurologis sedang melawan dorongan yang sangat kuat untuk tetap tinggal menemani anak. Dan ternyata, produktif dalam kondisi seperti itu membutuhkan energi yang jauh lebih besar dari biasanya.

Yang memperumit lagi adalah cognitive labor, yaitu beban berpikir yang tidak kasat mata. Tubuhnya di kantor, tapi pikirannya di rumah. Sosiolog Allison Daminger dari Harvard, dalam penelitiannya di American Sociological Review tahun 2019, mendefinisikan cognitive labor sebagai proses anticipating needs, identifying options, making decisions,dan monitoring progress. Karena sifatnya yang melelahkan namun sering tidak terlihat, ia menjadi sumber konflik yang persisten. Cognitive labor ini terbukti lebih bias gender dibanding pekerjaan rumah tangga fisik. Ibu menanggung porsi yang jauh lebih besar, terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan anak.

Lalu harus bagaimana?

Pertama, kenali dan akui apa yang sedang dirasakan, tanpa menghakimi diri sendiri. Ini yang disebut self-compassion, yang terdiri dari tiga komponen: self-kindness (bersikap baik pada diri sendiri), common humanity (menyadari bahwa tantangan ini dialami oleh jutaan ibu lain), dan mindfulness (hadir dengan sadar tanpa larut berlebihan). Self-compassion terbukti berkorelasi dengan berkurangnya depresi dan rasa cemas, serta meningkatnya kepuasan hidup.

Kedua, prioritaskan secara strategis. Di sinilah peran manusia sebagai sebaik-baik ciptaan-Nya berfungsi, untuk berpikir dan berstrategi. Gunakan Eisenhower Matrix, bedakan mana tugas yang urgent & important yang harus ditangani sendiri, mana yang urgent but delegable yang bisa dikerjakan orang lain. Menemani anak adalah urgent and important, tapi tidak semua aspeknya harus dilakukan sendiri. Melibatkan pasangan, orang tua, atau orang yang dipercaya bukan berarti GAGAL sebagai ibu. Itu tanda ibu cukup bijak untuk tahu bahwa kapasitas manusia ada batasnya.

Ketiga, bangun support system sejak jauh-jauh hari. Dalam manajemen prioritas dikenal kuadran urgent but not important, yaitu tugas-tugas yang mendesak tapi sebenarnya bisa didelegasikan. Delegasikan sebelum krisis terjadi, saat anak masih baik-baik saja. Penelitian tentang maternal well-being konsisten menunjukkan bahwa dukungan sosial adalah salah satu buffer paling kuat terhadap stres pengasuhan. Kekuatan seorang ibu bukan diukur dari seberapa banyak yang ia tanggung sendirian, tapi dari seberapa bijak ia tahu kapan harus meminta tolong.

Dan satu hal terakhir yang paling penting untuk diingat.

Dinar yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu. (HR. Muslim)

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menegaskan bahwa nafkah kepada keluarga lebih afdhal dari sedekah sunnah mana pun. Maka setiap rupiah yang dihasilkan ibu bekerja, dengan niat ibadah untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok keluarga, akan menjadi sedekah terbaik dalam hidupnya. Dan Ia Maha Melihat lagi Maha Tahu setiap jengkal usaha, setiap bulir keringat, setiap konflik batin yang diupayakan diselesaikan, bahkan yang terasa tidak terlihat oleh siapa pun....


Yogyakarta, 17 Maret 2026

https://www.instagram.com/nuriiaprilia/