SOCIAL MEDIA

Friday, July 17, 2026

TKA dan Privilese yang Tak Pernah Disebut dalam Kebijakan Pendidikan

Liburan sekolah kemarin, obrolan orang tua murid kelas 6 SD nyaris tidak lepas dari satu topik, bimbel mana yang paling ampuh mempersiapkan anak menghadapi Tes Kemampuan Akademik atau TKA, sebagian bahkan sampai waiting list. Begitu tahu biayanya, in this economy, angka segitu buat kami ya cukup pricey, bahkan ada yang biaya bulanannya melebihi SPP sekolah anak sendiri. Di Threads, cerita serupa bertebaran, orang tua membagikan pengalaman anaknya yang baru melalui TKA tahun lalu. Sebagian anak sudah didrill sejak kelas 4, dibantu guru privat dua kali seminggu per mata pelajaran, ditambah bimbel di luar rumah. Membaca dan mendengar semua itu, saya jadi terus terbayang anak-anak lain yang sebenarnya sama-sama butuh persiapan serupa, tapi kondisi keluarganya tidak memungkinkan untuk mengambil bimbel sama sekali. Bagi keluarga berpenghasilan pas-pasan, apalagi yang bekerja harian sekadar menyambung hidup, pilihan itu bahkan tidak pernah masuk hitungan, bukan karena tidak ingin, tapi karena memang tidak terjangkau.

Jawaban yang sering muncul untuk menjembatani kesenjangan ini cenderung klise, asalkan anak rajin belajar sendiri, peluang tetap terbuka. Pertanyaannya, cukupkah modal itu saja? Dalam banyak kasus, jawabannya seringkali tidak cukup, dan kerangka Pierre Bourdieu tentang modal budaya dan modal ekonomi menjelaskan dengan tepat mengapa. Keberhasilan akademik seorang anak, menurut Bourdieu, bukan semata hasil bakat atau kerja kerasnya sendiri, melainkan juga hasil dari modal yang diwariskan keluarganya, uang untuk membayar les, buku dan alat belajar di rumah, kebiasaan berbahasa yang sejak kecil sudah dekat dengan dunia sekolah. Anak dengan modal ini lebih mudah mengonversi usahanya menjadi nilai tinggi, sementara anak tanpa modal itu harus berusaha jauh lebih keras hanya untuk sampai di titik yang sama. Kesenjangan ini pun bukan barang baru yang muncul di kelas 6 SD, ia sudah terbentuk sejak tahun-tahun awal kehidupan anak, sebagaimana dijelaskan teori ekologi perkembangan Urie Bronfenbrenner, salah satu kerangka yang juga saya dalami saat menyusun tesis pendidikan anak usia dini.

Karena TKA jenjang SD berfokus pada membaca dan matematika, tes ini sebetulnya sedang mengukur fondasi yang sudah terbentuk sejak usia dini. Di sinilah efek Matthew, istilah yang dipopulerkan psikolog Keith Stanovich untuk menjelaskan pola dalam perkembangan literasi anak, menjadi relevan, anak dengan fondasi membaca kuat akan semakin sering membaca dan semakin terasah kemampuannya, sementara anak yang fondasinya lemah cenderung menghindar dan jaraknya dengan teman sebaya melebar seiring waktu. Anak yang tampak lebih siap menghadapi TKA bukan berarti lebih pintar secara alami, ia hanya lebih lama diberi kesempatan untuk berkembang, sebuah pola yang juga sejalan dengan temuan klasik Coleman bahwa latar belakang keluarga adalah prediktor capaian akademik yang jauh lebih kuat dibandingkan fasilitas sekolah.

Niat menghadirkan alat ukur yang lebih objektif tentu patut diapresiasi, tapi objektif bagi tes tidak otomatis berarti adil bagi semua anak yang mengerjakannya, sebab menyediakan tes yang sama untuk semua anak bukan berarti memberi kesempatan yang sama, terlebih jika hasil tes itu ikut menentukan jalur masuk sekolah favorit. Yang perlu dipertanyakan bukan tesnya, melainkan cara kita memaknai keadilan dalam kebijakan ini. Keadilan yang sesungguhnya membutuhkan pengakuan bahwa anak-anak berangkat dari titik start yang berbeda, dan kebijakan publik semestinya hadir untuk menjembataninya.