SOCIAL MEDIA

Tuesday, March 17, 2026

Ada Ibu yang Bekerja Bukan Demi Eksistensi, Namun Kondisi

Menjadi ibu sekaligus pekerja adalah dua peran yang masing-masing mengandung hak dan kewajiban. Keduanya tidak selalu mulus berjalan beriringan. Di satu sisi ada tanggung jawab profesional yang tidak bisa diabaikan. Di sisi lain, ada anak, ada rumah, ada kebutuhan yang juga nyata dan mendesak. Ketegangan antara dua peran ini bukan sekadar soal waktu atau tenaga. Keduanya sama-sama penting, seolah pilihan itu tidak ada.

Salah satu momen paling berat yang sering dialami ibu bekerja adalah ketika anak jatuh sakit. Bukan sakit ringan yang cukup dengan obat dan istirahat, tapi sakit yang membutuhkan perawatan intensif dan kehadiran ibu jadi bagian penting dari penyembuhan itu. Namun kondisi pekerjaan tidak memungkinkan untuk izin meninggalkan. Bukan karena perusahaan tega (atau memang?), tapi kontrak kerja mengatakan demikian. Bagian dari akad yang ditandatangani dengan sadar.

Ada istilah psikologis untuk kondisi ini, disebut role conflict. Konflik yang muncul ketika tuntutan dari dua peran yang diemban saling bertabrakan dan tidak bisa dipenuhi secara bersamaan. Role conflict bersifat identity destroying. Ibu yang mengalaminya bukan tidak bertanggung jawab. Justru karena ia terlalu bertanggung jawab pada dua hal sekaligus, itulah yang membuatnya merasa sesak.

Ini juga yang disebut approach-avoidance conflict. Pergi kerja adalah pilihan yang menarik karena ada kewajiban dan kebutuhan finansial yang nyata (approach). Tapi pergi kerja juga menghadirkan perasaan bersalah, karena harus meninggalkan anak yang sedang butuh ibunya (avoidance). Avoidance conflict terbukti secara eksperimental lebih sulit diselesaikan dibanding jenis konflik lainnya.

Ingat materi handling baby di e-learning Enlightening Parenting? Di video tersebut saya menjelaskan salah satu penelitian yang dipublikasikan di neuropsychopharmacology, menggunakan fMRI, yang menunjukkan bahwa sinyal wajah bayi, baik yang sedang senyum maupun menangis, mengaktifkan dopamine-associated brain reward circuits, termasuk area ventral striatum dan hypothalamus/pituitary yang berkaitan dengan oksitosin. Artinya, ketika seorang ibu memaksakan diri berangkat kerja sementara anaknya sakit di rumah, tubuhnya secara neurologis sedang melawan dorongan yang sangat kuat untuk tetap tinggal menemani anak. Dan ternyata, produktif dalam kondisi seperti itu membutuhkan energi yang jauh lebih besar dari biasanya.

Yang memperumit lagi adalah cognitive labor, yaitu beban berpikir yang tidak kasat mata. Tubuhnya di kantor, tapi pikirannya di rumah. Sosiolog Allison Daminger dari Harvard, dalam penelitiannya di American Sociological Review tahun 2019, mendefinisikan cognitive labor sebagai proses anticipating needs, identifying options, making decisions,dan monitoring progress. Karena sifatnya yang melelahkan namun sering tidak terlihat, ia menjadi sumber konflik yang persisten. Cognitive labor ini terbukti lebih bias gender dibanding pekerjaan rumah tangga fisik. Ibu menanggung porsi yang jauh lebih besar, terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan anak.

Lalu harus bagaimana?

Pertama, kenali dan akui apa yang sedang dirasakan, tanpa menghakimi diri sendiri. Ini yang disebut self-compassion, yang terdiri dari tiga komponen: self-kindness (bersikap baik pada diri sendiri), common humanity (menyadari bahwa tantangan ini dialami oleh jutaan ibu lain), dan mindfulness (hadir dengan sadar tanpa larut berlebihan). Self-compassion terbukti berkorelasi dengan berkurangnya depresi dan rasa cemas, serta meningkatnya kepuasan hidup.

Kedua, prioritaskan secara strategis. Di sinilah peran manusia sebagai sebaik-baik ciptaan-Nya berfungsi, untuk berpikir dan berstrategi. Gunakan Eisenhower Matrix, bedakan mana tugas yang urgent & important yang harus ditangani sendiri, mana yang urgent but delegable yang bisa dikerjakan orang lain. Menemani anak adalah urgent and important, tapi tidak semua aspeknya harus dilakukan sendiri. Melibatkan pasangan, orang tua, atau orang yang dipercaya bukan berarti GAGAL sebagai ibu. Itu tanda ibu cukup bijak untuk tahu bahwa kapasitas manusia ada batasnya.

Ketiga, bangun support system sejak jauh-jauh hari. Dalam manajemen prioritas dikenal kuadran urgent but not important, yaitu tugas-tugas yang mendesak tapi sebenarnya bisa didelegasikan. Delegasikan sebelum krisis terjadi, saat anak masih baik-baik saja. Penelitian tentang maternal well-being konsisten menunjukkan bahwa dukungan sosial adalah salah satu buffer paling kuat terhadap stres pengasuhan. Kekuatan seorang ibu bukan diukur dari seberapa banyak yang ia tanggung sendirian, tapi dari seberapa bijak ia tahu kapan harus meminta tolong.

Dan satu hal terakhir yang paling penting untuk diingat.

Dinar yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu. (HR. Muslim)

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menegaskan bahwa nafkah kepada keluarga lebih afdhal dari sedekah sunnah mana pun. Maka setiap rupiah yang dihasilkan ibu bekerja, dengan niat ibadah untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok keluarga, akan menjadi sedekah terbaik dalam hidupnya. Dan Ia Maha Melihat lagi Maha Tahu setiap jengkal usaha, setiap bulir keringat, setiap konflik batin yang diupayakan diselesaikan, bahkan yang terasa tidak terlihat oleh siapa pun....


Yogyakarta, 17 Maret 2026

https://www.instagram.com/nuriiaprilia/

No comments :

Post a Comment