"Dari banyaknya cara kehilangan, yang paling menyakitkan adalah ditinggalkan karena kematian… karena setelahnya, yang ada hanyalah rindu tanpa bisa bertemu lagi."
Beberapa hari yang lalu, saya diam beberapa detik membaca postingan Sheila Dara, beberapa hari setelah kepergian suaminya, Vidi. Postingan yang kemudian saya cari-cari lagi, tapi nihil.
Saat itu saya baca dua-tiga kali. Mata saya menerawang. Karena kalimat itu terlalu familiar.
Saat kehamilan pertama, setelah perjuangan panjang untuk bisa hamil, dokter dengan hati-hati menyampaikan bahwa janin dalam kandungan saya yang sudah beberapa bulan usianya, nggak lagi berkembang. Ya. Saya keguguran.
Nggak langsung nangis. Saya hanya diam. Bahkan sampai beberapa jam setelah proses kuretase.
Dan merelakan itu ternyata butuh waktu yang jauh lebih lama.
Belakangan saya tau, diam itu cara otak melindungi diri dari sesuatu yang terlalu besar untuk diproses sekaligus.
Saat itu, seorang sahabat menyampaikan ke saya tentang tahapan untuk bisa legowo.
Elisabeth Kübler-Ross, psikiater asal Swiss, memperkenalkan 5 tahap duka. Ini bukan pakem urutan wajib. Bisa bolak-balik, bisa loncat dari satu tahap ke tahap lainnya, bisa juga hanya beberapa tahap aja yang dirasain. Nggak semua.
Denial
"Ini beneran? Janinku nggak berkembang? Meninggal?" Otak butuh waktu menyesuaikan diri dengan kenyataan yang tiba-tiba berubah. Makanya orang yang baru kehilangan, kadang masih refleks nglakuin kebiasaan-kebiasaan sebelumnya.
Kalau saya, saat itu refleks ngelus perut, ngrasa masih ada yang gerak-gerak, seolah masih ada "dia".
Anger
Marah sama keadaan, sama dokter, bahkan Allah swt. "Kenapa aku ya Allah?"
Ini bukan tanda lemah iman. Ini tanda pernah benar-benar ngerasa sayang. Cinta.
Bargaining
Berandai-andai. "Seandainya waktu itu aku sempet minta maaf… Seandainya aku cepet bawa ke dokter…"
Pikiran nyari-nyari kendali atas sesuatu yang nggak bisa dikendalikan.
Depression
Riset membuktikan duka memicu stres. Kortisol naik, imun melemah, tidur keganggu.
Acceptance
Bukan berarti udah prengas-prenges atau berhenti nggak inget-inget lagi, nggak kangen. Tapi, acceptance adalah tahap dimana mulai bisa hidup berdampingan dengan kehilangan itu.
Meaning (ditambahkan David Kessler)
Tahap berhasil menemukan makna. Makna dibalik kehilangan.
RISET: LUNDORFF & BONANNO (2020)
Pada 857 orang yang kehilangan pasangan, penelitian menemukan bahwa mayoritas orang yang berduka punya pola resilient, ngrasa berat di awal, tapi dengan berjalannya waktu akhirnya bisa menerima.
Oiya, cara pria dan wanita berduka itu BEDA.Pria ngrasain emosi berat di awal-awal berduka, lalu berjalannya waktu bisa cepat membaik.
Kalau wanita justru sebaliknya. Seiring berjalannya waktu, kadang emosinya justru meningkat. Bukan berarti nggak ikhlas. Bukan.
Innalillahi wa inna ilaihi roji'un bukan sekadar kalimat. Ini pengakuan bahwa setiap jiwa adalah titipan, dan semua adalah ketetapanNya.
Boleh sedih, boleh nangis nggak?
Boleh. Rasulullah ﷺ sendiri nangis saat putranya Ibrahim wafat.
Dan nangislah saya, saat bapak Hen memeluk, mengelus rambut setelah proses kuretase sambil membawanya dalam balutan kain putih. "Nangislah. Boleh. Take your time."
Ta'ziyah. Hadir, nemenin keluarga yang ditinggalkan. Bukan nasihat panjang. Bukan ceramah tentang ikhlas apalagi iman. Cukup hadir. Nemenin.
Hal ini sesuai dengan riset-riset yang ada, bahwa koneksi sosial adalah faktor paling nentuin dalam pemulihan duka.
Karena saya juga pernah ada di tahap itu. Bertahun-tahun lamanya. Untuk paham bahwa Allah swt memang menyiapkan "itu" untuk dilalui dulu, agar saya bisa lebih "siap" hari ini.
Caption Sheila Dara mengingatkan saya pada "rindu" yang sama. Kalau sekarang ada yang masih berduka dan lelah bertanya-tanya kenapa…?
Take your time.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ
"Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.."
Al-Fatihah……….
Yogyakarta, Maret 2026
No comments :
Post a Comment